Apakah Para Wali Alloh Masih Hidup ...? - M. Arif Hasan, S.Pd. M.Pd.

Apakah Para Wali Alloh Masih Hidup ...?

Apakah para wali itu masih hidup ?

 

Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Imron ayat 169:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

   

“LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA ” 
Terjemahnya sebagai berikut: 
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu ‘MATI’ bahkan mereka itu ‘HIDUP’ di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi”.
HIDUP Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat keni’matan-keni’matan di sisi Alloh, Dan hanya Alloh sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan HIDUP nya itu.

Pickthall

:

Think not of those, who are slain in the way of Allah, as dead. Nay, they are living. With their Lord they have provision.

Asad

:

But do not think of those that have been slain in God's cause as dead. Nay, they are alive! With their Sustainer have they their sustenance,

 

Malik

:

Never think of those who are slain in the cause of Allah as dead. Nay they are alive, and well provided for by their Rabb;

Yusuf Ali

:

Think not of those who are slain in Allah's way as dead. Nay they live finding their sustenance in the presence of their Lord


Tanda-tanda seorang Wali Allah Swt.

علامة الولىّ ثلاثة : شغله بالله تعالى وفراره إلى الله تعالى وهمّه الله عزّ وجلّ
نقل فى الرسالة القشيرية صحفة 263
Tanda-tanda seorang wali itu ada 3 :

1. Ia akan selalu disibukkan dengan Allah

2. Pelariannya selalu kepada Allah

3. Tujuannya hanya kepada Allah yang Maha Mulya dan Maha Agung

( disalin dari kitab Risalah Al-Qusyairiyyah hall.263 )

Pengertian Wali

تعريف الولى 
Wali berasal daro kata "waliyayawla" yang berarti "dekat dengan sesuatu". Al-waliyyu = orang yg memiliki kedekatan dgn Allah atau orang yg disayang Allah. Imam Al-Thabari ra. menyebutkan bahwa ketika Nabi Saw. ditanya tentang makna awliya’, ia menjawab bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang dicemburui oleh para Nabi dan syuhada’ (orang-orang yang mati dalam jihad); mereka saling mencintai tanpa memperhatikan faktor-faktor kekayaan dan keturunan, wajah mereka tampak bersinar dan bercahaya ketika berada di atas mimbar; mereka tidak khawatir ketika orang lain merasa khawatir, dan tidak sedih ketika orang lain merasa sedih. Penjelasan al-Thabari ini tampaknya dianut oleh dua mufassir kemudian, yakni al-Zamakhsyari yang bermazhab Mu’tazilah dan Ibn Katsir yang bermazhab Ahl al-Sunnah dengan menyebut dua hadis yang sama dalam kitab tafsir mereka. Menurut Imam ‘Ali ibn Abi Thalib kwh, diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas ra. : “Ketika ‘Ali ditanya tentang arti awliya’, ia menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat tulus dalam menyembah Allah, melihat segi batin (esoteric) dari segala sesuatu, sementara orang lain melihat segi lahirnya (exoteric); mereka memiliki kesabaran untuk menunggu, tidak pernah tertipu oleh kesementaraan; mereka meninggalkan apa yang tidak akan abadi dan menghancurkan apa yang akan menghancurkan mereka.Menurut Imam Husain ibn ‘Ali ra. yang mengatakan bahwa awliya’ adalah mereka yang mengikuti perintah-perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya, menjauhi larangan-laragangan, meninggalkan kesenangan dunia, berjuang di jalan Allah, berjuang untuk kehidupan yang terbaik, tidak mencari nama dan mengejar kemewahan yang berlebih, dan mereka membayar apa yang menjadi kewajiban mereka.Di samping itu, dua penafsiran lain yang berbeda diberikan oleh al-Qurthubi (w. 671/1272) dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an dan al-Alusi (w.1251/1835) dalam Ruh al-Ma’ani. Penafsiran al-Qurthubi didasarkan pada pendapat Imam‘Ali ibn Abi Thalib kwh. yang mengatakan bahwa awliya’ adalah mereka yang wajahnya pucat karena mereka kurang tidur, mata mereka sayu karena banyak menangis, perut mereka kosong karena kurang makan, bibir mereka kering karena banyak berzikir. Selain itu, penafsiran al-Alusi didasarkan pada hadis qudsi, di mana Allah berkata, “Di antara hamba-hambaku adalah dia yang selalu dekat Aku dengan mengerjakan nawafil (ibadah sunnah), hingga Aku mencintainya. Sekali Aku mencintainya, Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk meraba dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.” Dengan kata lain, hadis ini menyatakan bahwa karena cinta-Nya yang dalam Allah selalu membimbing pikiran dan tindakannya agar terhindar dari maksiat dan kejahatan.
و أطاع الرأى الإمام العلاّمة العارف بالله أبو القاسم عبدالكريم بن هوازن القشيري رضي الله عنه : للولى معنيان أحدهما وهو من يتولى الله سبحانه أمره قال الله تعالى : وهو يتولى الصالحين ، والثانى وهو الذي يتولى عبادة الله تعالى وطاعته
Menurut Imam al-Qusyairi ra. ada dua pengertian wali. Pertama, wali adalah orang yang seluruh urusannya dilindungi Allah swt. Hal ini sebagimana firman-Nya: “Dan Dia melindungi orang-orang yang saleh” (QS. al-A’raf: 196). Kedua, wali adalah orang yang selalu menjaga ibadah dan ketaatannya kepada Allah swt.
وأطاع الرأى الإمام شهاب الدين أحمد ابن حجر العشقلانى رحمه الله تعالى : وهو العالم بذات الله فقط 
Pengertian wali menurut pendapat Imam hajar al-asyqolani ra. Adalah seoarang yang cerdik pandai yang mengetahui Dzat Allah saja. Menurut Ibnu Araby dalam kitab Al-Futuhat Al-Makiyyah, ada 8 kriteria kewalian : 
1. Orang yang hanya menjadikan Allah sebagai pelindung 
2. Orang yang mencintai dan berusaha meniru sifat-NYA ( berakhlak seperti sifat wajib bagi Alloh dan ber akhlak seperti Asma min asmail husna Alloh ta`ala. ) 
3. Orang yang senantiasa kembali dan menyegerakan bertaubat kepada-NYA 
4. Orang yang selalu berusaha menyucikan diri lahir batin 
5. Orang yang sabar atas takdir-NYA 
6. Orang yang bersyukur atas nikmat-NYA 
7. Orang yang berbuat baik dan memperbaiki/muhsin 
8. Orang yang menghadirkan Allah dalam hati setiap saat
Menurut Ibn Taymiyyah (w.728/1328) yang berpendapat dalam kitabnya al-Furqan bayna Awliya’ al-Rahman wa Awliya’ al-Syaythan bahwa wali adalah orang yang selalu mengikuti ajaran Allah; dengan demikian, jika melanggar hukum-Nya, dia tidak disebut sebagai wali Allah tetapi wali setan.
Menurut Syekh Yûsuf al-Nabhânî dalam kitab Jâmi’ al-Karâmat al-Awliyâ` bahwa wali adalah orang yang sangat dekat kepada Allah lantaran penuh ketaatannya dan Allah memberikan kuasa kepadanya dengan keramat dan penjagaan. Wali juga berarti orang yang dapat menguasai semua perbuatannya sesuai dengan aturan syara’ yang mulia. Menurut Syekh Ibrâhîm al-Bâjûrî dalam kitab Tuhfat al-Murîd bahwa wali adalah orang yang mengetahui Allah dan sifat-sifat- Nya dengan perantaraan ketekunan mentaati Allah, menghindar dari segala macam maksiat, dalam arti ketika ia melakukan dosa selalu disertai tobat, bukan berarti bahwa ia tidak pernah jatuh dalam perbuatan dosa atau maksum.
Menurut al-Jurjani (w. 816/1413) dalam Kitab al-Ta’rifat, istilah wali ditujukan kepada orang yang mengetahui Allah dan sifat-sifat-Nya (al-’arif bi’llah wa shifatih), yang berjalan dalam ketaatan yang konstan, menghindari kekerasan dan membebaskan fikirannya dari belenggu/kungkungan kesenangan materi dan nafsu seksual.
Dalam Kitab Jami’u karamatil Aulia Juz 1 hal 7 Syech Yusup bin sulaiman berpendapat bahwa “wali ialah orang yang sangat dekat kepada Alloh lantaran penuh ketaatannya dan oleh karena itu Alloh memberikan kuasa kepadanya dengan Karomah dan penjagaan”
Menurut wali quthub Al-habib Abdullah bin Abdul Qodir balfaqih ra. :
الولى هو المؤمن المتّقي
Wali Allah adalah orang yang beriman dan bertaqwa
Menurut Syaikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghony Al- Banjari rhm.
الولى هو القائم بحقوق الله تعالى وحقوق العباد حسب الامكان واما ضابط الولى الكامل فهوالمداوم على الطاعات واجتناب المعاصى المعرض عن الانهماك فى اللذات سمى وليا لأنه تولى خدمة ربه وانهماك فيها معرضا عن نفسه وشهواته فولى الله تعاالى ورسوله صلعم فلم يخرج عن امر هما ونهيهما الى ميغضهما وقيل سمى وليا لان الله تولاه فلم يكله الى شيء سواه فوالاه الله بخوارق نعمه ورسوله والاه بمزيد امداده وكرمه 
Artinya: Wali adalah orang yang melaksanakan (menegakkan) hak-hak Allah dan hak-hak hamba sedapat mungkin. …Adapun definisi wali yang sempurna adalah orang yang senantiasa (dawâm) melaksanakan ketaatan dan menjauhi maksiat serta berpaling dari tenggelam dalam berbagai kelezatan.

Dilihat : 3 User
Komentar : 2 komentar
  • M. Arif Hasan, S.Pd. M.Pd. Saat tersebar berita sekilas pembuatan Film mengenai " Nabi Muhammad S.A.W di Amrik, semua umat moeslim seluruh dunia memprotesnya..., sekarang tersebar berita di Arab Saudi, bahwa sebulan setelah Musim Haji ini rencana Mufti Kerajaan Arab akan memusnahkan Maqom Rosulluloh S.A.W .. benarkah ini.... La haola walaquata Illa billahil aliyil azhim, semoga tidak benaaaaar..
    # 1
    1 Nov 12
  • Asep Komarudin XII IPA 2 hanya allah yang maha tau akan semua yang ada di muka bumi ini.
    # 2
    9 Nov 12