Bahan Bakar Minyak Dari Sampah Plastik - Rendi Krismayuda XII IPA-5

Bahan Bakar Minyak Dari Sampah Plastik

KONDISI KEBERSIHAN SMAN 1 SINGAPARNA

            Semakin banyak tingkat konsumsi individu di suatu komunitas, semakin banyak pula sampah yang dihasilkannya. Kondisi lingkungan ini bisa terjadi di mana saja termasuk di SMAN 1 Singaparna. Dengan jumlah rombel sebanyak 27 kelas yang terdiri dari 934 siswa , beserta guru dan karyawan lainnya sebanyak 111 orang, dari hasil survey 70,18 % siswa tidak membuang sampah pada tempatnya, sesuai dengan fasilitas tempat sampah organik dan anorganik yang sekolah sediakan. Hal ini menyulitkan pengolahan sampah terutama sampah anorganik jenis plastik. Sementara itu, 72,72 % jajanan siswa  berbungkuskan plastik.

            Penangan sampah plastik yang dapat terurai dalam jangka waktu ± 50 tahun dengan teknik  pembakaran belum bisa mengatasi permasalahan plastik, justru muncul masalah baru yaitu polusi udara dan penjualan sampah plastik pun tidak memberikan nilai ekonomi yang berarti. Teknik recycling kemungkinan menjadi salah satu alternatif penanganan sampah plastik.

            Berdasarkan fakta tersebut dan hasil survey 69,45 % siswa setuju berpartisipasi untuk mengolah sampah plastik menjadi produk yang berguna. Dan kelompok kami mencoba mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dengan alat kondensator sederhana, yaitu peralatan yang dibuat dari barang bekas berupa kaleng bekas, pipa bekas, dan sebagainnya.

            Tujuan pembuatan karya tulis ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), serta memberikan informasi tentang pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar.

            Manfaat penulisan karya tulis ini diharapkan mampu meningkatkan kreatifitas siswa dalam mengolah sampah anorganik jenis plastik.

KARAKTERISTIK SAMPAH PLASTIK

Plastik  merupakan bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berbahaya bagi lingkungan. Limbah daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna. Oleh karena itu, penggunaan bahan plastik dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif bagi lingkungan apabila digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu.

Sedangkan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya siswa yang berada di SMAN 1 Singaparna, penggunaan bahan plastik bisa ditemukan di hampir seluruh aktivitas di sekolah. Bila disadari, kita mampu berbuat lebih untuk hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Bahkan lebih bagus lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle).

Jika seorang siswa membeli makanan kemasan plastik di kantin 3 bungkus setiap istirahat berarti dalam satu kelas yang berjumlah 38 siswa dapat menggunakan 114 kantung plastik yang seringkali dibuang begitu saja. Dan jika seluruh siswa di setiap rombel kelas melakukan hal itu maka akan terkumpul 114 × 27 rombel kelas = 3078  kantung plastik yang mencemari lingkungan.

 

Pengelolaan Limbah Plastik dengan Metode Recycle ( Daur Ulang )

Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri.

Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya (Sasse et al.,1995).

Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia (Syafitrie, 2001).

Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran dengan bahan baku baru dan additif untuk meningkatkan kualitas (Syafitrie, 2001). Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang populer dan laku di pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene (HDPE), polipropilena (PP), dan asoi.

Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak dengan Alat  Kondensator Sederhana

            Dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meminimalisir sampah plastik di lingkungan SMAN 1 Singaparna juga berdasarkan karakteristik sampah plastik yang sangat sulit terurai dan bisa membutuhkan waktu 100-400 tahun, berbeda dengan sampah organik kira-kira yang hanya membutuhkan waktu 1-5 hari  juga akibat pembakaran sampah plastik kita bakar yang akan menyebabkan keluar nya zat-zat beracun yang berbahaya bagi tubuh kita.

Saat membakar sampah dalam tumpukan, tidak terjadi proses pembakaran yang baik. Pembakaran yang baik adalah dengan membutuhkan oksigen (O2) yang cukup. Berbeda saat membakar tumpukan sampah, mungkin bagian luar tumpukan cukup mendapatkan oksigen sehingga menghasilkan CO2, tapi di dalam tumpukkan sampah akan kekurangan O2 sehingga yang dihasilkan adalah gas karbon monoksida (CO).

Gas karbon monoksida (CO) merupakan gas yang berbahaya, karena dapat membunuh kita secara massal. Bila kita menghirup gas CO, hemoglobin darah yang seharusnya mengangkat dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh akan terganggu. Dengan begitu, tubuh akan mengalami kekurangan oksigen, yang dapat berujung kematian.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga berbahaya. Masalah juga muncul dari sampah organik, yang dapat mengakibatkan partikel-partikel yang tak terbakar akan berterbangan, atau menghasilkan reaksi yang menghasilkan hidrokarbon berbahaya. Hidrokarbon berbahaya yang dihasilkan asap pembakaran sampah, termasuk senyawa penyebab kanker yaitu benzopirena. Nyatanya mencapai 350 kali lebih besar dari asap rokok. Semakin jauh, kita bisa terjangkit kanker paru-paru, infeksi paru-paru, asma, atau bronkitis.

Belum lagi dengan gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah, yang juga dapat merusak atmosfer bumi. Gas tersebut adalah senyawa chlor, yang dihasilkan dari pembakaran plastik. Pembakaran bahan sintetis yang mengandung nitrogen, seperti nilon, busa poliuretan yang ada pada sofa atau karpet busa, juga membahayakan karena dapat menghasilkan gas HCN yang berbahaya.

Oleh karena itu,  munculah ide kami untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar pengganti alkohol dan spirtus untuk praktikum kimia dengan metode dan peralatan yang sederhana.

Penerapan Prinsip Kondensasi dalam Proses Pembuatan Bahan Bakar dengan Alat Kondensor Sederhana

Kondensasi adalah perubahan wujud benda ke wujud yang lebih padat, seperti gas atau uap menjadi cairan. Kondensasi terjadi ketika uap didinginkan menjadi cairan, tetapi dapat juga terjadi bila sebuah uap dikompresi (yaitu tekanan ditingkatkan) menjadi cairan, atau mengalami kombinasi dari pendinginan dan kompresi. Cairan yang telah terkondensasi dari uap disebut kondensat. Sebuah alat yang digunakan untuk mengkondensasi uap menjadi cairan disebut kondensor. Kondensor umumnya adalah sebuah pendingin atau penukar panas yang digunakan untuk berbagai tujuan, memiliki rancangan yang bervariasi, dan banyak ukurannya dari yang dapat digenggam sampai yang sangat besar.

Prinsip kondensasi tersebut dapat diterapkan pada plastik karena plastik memiliki kemiripan unsur pembentuk dengan bahan bakar minyak. Saat dipanaskan pada wadah yang sangat tertutup  plastik akan meleleh lalu mencair, cairan plastik ini jika terus dipanaskan akan membentuk uap panas, dan jika uap panas ini melewati pendingin (kondensator) dia akan mengembun dan membentuk minyak.

Minyak yang dihasilkan dari plastik tersebut lebih bagus dari minyak tanah. Selain itu, minyak tersebut juga bisa dikonversikan menjadi solar, bensin, dan lain lain. Yang menjadi permasalahan selanjutnya yaitu peralatan yang rumit dan harganya yang mahal. Keinginan yang terbelenggu dengan paradigma seperti itu membuat siswa menganggap tidak mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar tersebut.

Berdasarkan fakta tersebut, kami mencoba mengubah paradigma siswa tentang pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar yang rumit dan mahal dengan menciptakan alat pengubah sampah plastik menjadi minyak sederhana yang berasal dari barang-barang bekas.

 

Prosedur Kerja Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak dengan Alat Kondensator Sederhana

  • Penyusunan matriks kegiatan

Untuk mengefektifkan waktu dalam membuat karya tulis ilmiah ini, kami menyusun matriks kegiatan yang berisi hal-hal yang akan dilakukan dari tahap awal, yaitu merancang tema hingga tahap akhir yaitu pembuatan produk dengan uraian sebagai berikut :

MATRIKS KEGIATAN

No

Jenis Kegiatan

Juli

Agustus

September

1

2

3

4

5

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Diskusi materi

 

 

 

 

X

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Pembuatan angket

 

 

 

 

X

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Penyuluhan dan pembagian angket

 

 

 

 

 

X

 

 

 

 

 

 

 

4

Penarikan angket

 

 

 

 

 

 

X

 

 

 

 

 

 

5

Pengolahan hasil survey dari angket

 

 

 

 

 

 

 

X

 

 

 

 

 

6

Penarikan sampah dari tiap kelas

 

 

 

 

 

 

 

X

 

 

 

 

 

7

Pengolahan sampah menjadi bahan bakar minyak

 

 

 

 

 

 

 

 

X

 

 

 

 

7

Pembuatan karya tulis

 

 

 

 

 

 

 

 

X

 

 

 

 

6

Pengumpulan karya tulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X

 

 

  • Mensurvey siswa-siswi SMAN 1 Singaparna melalui penyebaran angket.

Survey sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat konsumsi makanan dan minuman kemasan plastik juga minat untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dengan alat kondensator sederhana dari setiap siswa yang akan dijadikan acuan dalam pengolahan sampah plastik tersebut. Kami mensurvey seluruh siswa dengan menggunakan angket kondisi sampah yang hasilnya kami olah dalam bentuk persentase.

Adapun hasil survey dari angket yang kami sebarkan adalah sebagai berikut :

 

PEMERINTAH KABUPATEN TASIKMALAYA

DINAS PENDIDIKAN

SMA NEGERI 1 SINGAPARNA

Jln. Pahlawan KHZ Mustofa, Singaparna, Tasikmalaya 46416

Telp. (0265) 545203 Fax. (0265) 541499

Website:  http://www.smanspa.sch.id   Email: smanspang@yahoo.co.id

 

KONDISI SAMPAH SMAN 1 SINGAPARNA

Nama               :

Kelas               :

Observer          :          

                                   

No

Pertanyaan

Jawaban

Ya

Tidak

1

Apakah sampah di SMANESPA masih berserakan?

73,45 %

26,55 %

2

Apakah kalian selalu membuang sampah pada tempatnya ?

29,82 %

70,18 %

3

Apakah kalian nyaman dengan kondisi sampah di SMANESPA sekarang ?

26,9 %

73,1 %

4

Apakah mayoritas pembuang sampah adalah siswa ?

71,27 %

28,73 %

5

Apakah kalian konsumen dari minuman kemasan cup (gelas) dan botol ?

72,72 %

27,28 %

6

Apakah kalian konsumen dari makanan yang berbungkus plastik ?

72,72 %

27,28 %

7

Apakah kalian selalu membuang sampah kertas ?

50,54 %

49,46 %

8

Apakah kalian bisa mengelompokkan sampah

(kertas, plastik, dan cup/botol ) ?

30,9 %

69,1 %

9

Apakah sampah di SMANESPA sudah dimanfaatkan dengan baik?

33,46 %

66,54 %

10

Apakah kalian ingin memanfaatkan sampah tersebut sehingga mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri ?

69,45 %

30,55 %

 

            Berdasarkan hasil survey tersebut 69,45% siswa setuju untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang bermanfaat sebagai bahan bakar minyak yang dibuat dengan alat kondensator sederhana. Hal tersebut semakin mendorong kami untuk melakukan program selanjutnya, yaitu melakukan program pembuatan minyak yang berbahan sampah plastik.

  • Pengumpulan sampah dari tiap-tiap kelas

Untuk menunjang kegiatan ini, pihak sekolah menyediakan fasilitas 3 tempat sampah khusus anorganik, yaitu tempat sampah kertas, plastik, dan cup/botol bekas minuman. Hasil survey 30,9 % siswa yang dapat mengelompokkan 3 jenis sampah tersebut sedangkan sisanya tidak bukan merupakan kendala bagi kami untuk melaksanakan program ini. Faktanya siswa tersebut saling membantu teman-temannya yang tidak dapat mengelompokkan 3 jenis sampah khusus anorganik.

Setelah ketiga jenis sampah anorganik (sampah cup/botol, kertas, dan plastik) dari tiap kelas terkumpul, kami memulai melaksanakan program inti yaitu pengolahan sampah plastik dan cup/botol bekas minuman menjadi bahan bakar dengan alat kondensator sederhana. Alat kondensator sederhana tersebut bisa dibuat oleh siswa sendiri karena menggunakan metode yang mudah.

  • Pengolahan sampah plastik

 

Alat dan bahan :

ü  Sampah plastik

ü  Kaleng bekas biskuit

ü  Pipa bekas

ü  Lem besi

ü  Ember berisi air penuh 

ü  Gelas kaca

Cara kerja :

Mengelas pipa besi agar mudah digunakan sehingga berbentuk seperti pada rancangan di atas. Selanjutnya melubangi tutup kaleng bekas kue seukuran dengan keliling pipa besi tasi, agar selama pembakaran uap terkurung di dalam kaleng agar uap yang dihasilkan maksimal. Setelah itu, sambungkan tutup kaleng dengan pipa, dan rekatkan dengan lem besi agar tidak ada sedikit pun uap yang keluar saat pembakaran berlangsung.

Sampah-sampah plastik yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam kaleng, lalu tutup kaleng tersebut rapat-rapat dengan penutup yang telah dimasuki pipa besi tadi. Untuk alat kondensatornya, menggunakan ember yang telah berisi air dan diletakkan di pipa kedua. Sedangkan untuk menampung hasil kondensasi, digunakan gelas kimia yang diletakkan di pipa akhir. Langkah selanjutnya, meletakkan kaleng yang berisi sampah plastic di atas tungku pembakaran yang telah dipersiapkan.

Pembakaran sampah plastic menggunakan tungku pembakaran sederhana, dengan memanfaatkan kayu bakar ataupun serbuk gergaji. Akan tetapi kestabilan api tungku pembakaran harus dijaga agar pembuatan BBM tersebut lebih efektif dan efisien. Api kuning yang cukup besar dan stabil dapat mempercepat proses pembakaran plastic. Pembakaran harus dilakukan di luar ruangan agar kaya O2 yang sangat penting dalam proses pembakaran.

 

Hasil

Dari 2 ons berbagai jenis sampah plastik, kami menghasilkan 5 ml bahan bakar minyak. Dengan jumlah tersebut dapat disimpulkan bahwa pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dengan alat kondensator sederhana sangatlah efektif ntuk mengatasi masalah sampah dan berguna untuk penunjang proses kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Singaparna.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dengan diberlakukannya UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah maka diperlukan model pengelolaan sampah yang baik dan tepat untuk dikembangkan di sekolah sehingga kualitas lingkungan sekolah dapat ditingkatkan .

Sampah plastik dapat menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar minyak yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pembakar bunsen untuk praktikum kimia.

Saran

            Dalam melakukan pembuatan bahan bakar minyak dari sampah plastik hendaknya diperhatikan unsur perapian dan banyaknya sampah plastik yang digunakan. Selain efektif juga dapat mengukur hasil yang didapat dari sekian jumlah sampah plastik yang digunakan.

 

DAFTAR  PUSTAKA

www.wikipedia.co.id

 

 LAMPIRAN

 

 

Dilihat : 6 User
Komentar : belum ada Komentar