Materi PMR Wira - Indri Nofianti

Materi PMR Wira

MATERI DASAR PMR WIRA
BAB 1KEPALANG MERAHAN
A.PALANG MERAH INTERNASIONAL

Latar belakang
Berdirinya Palang Merah dan Bulan Sabit Merah sebagai lembaga kemanusiaan dilatarbelakangioleh sentuhan batin terhadap penderitaan yang dialami prajurit di medan pertempuran. Penderitaanprajurit-prajurit yang luka karena tidak adanya perawatan, kurangnya logistik dan kejamnya perangitu sendirilah yang menyebabkan tergugahnya nurani orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan.Dua medan pertempuran yang amat terkenal pada abad ke-19 ialah perang KRIM dan perangSOLFERINO dan tercatat sebagai perang yang sangat menyeramkan. Perang inilah yang telahmelahirkan inspirasi terbentuknya lembaga kemanusiaan yang sekarang dikenal dengan namaPalang Merah atau Bulan Sabit Merah.
Perang KRIM
“KRIM” adalah nama semenanjung di laut Hitam termasuk wilayah Rusia. Dinamakan PERANGKRIM karena di semenanjung inilah terjadi perang dahsyat antara Rusia melawan Turki yang dibantu oleh Inggris dan Perancis yang terjadi selama 2 tahun mulai bulan Maret 1854 s/d 30 Maret 1856. { menceritakan sejarah petualangan Florence Nightingale }
Perang SOLFERINO
Solferino adalah nama dari suatu kota kecil yang terletak di daerah daratan rendah Propinsi Lambordi, paling utara Italia. Di daerah ini terjadi pertempuran dahsyat antara tentara Austriamelawan Prancis yang membantu Sardinia. { menceritakan sejarah petualangan Jeant Henry Dunant }

Sejarah
Sejarah lahirnya Palang Merah tak dapat dilepaskan dari kondisi medanperang. Berawal dengan pecahnya perang antara pasukan Perancis danItalia melawan Austria pada tahun 1859 di Solferino Italia Utara korbansekitar 40.000 orang serdadu terlantar, teluka parah dan sekarat, makatercetuslah gagasan Jean Henry Dunant untuk memberikan pertolonganbagi para korban perang. Ide/gagasan yang tergambar dari pengalamannyaselama beberapa hari bergelut di medan perang ketika menolong parakorban, dituangkan dalam sebuah buku yang ditulisnya pada tahun 1862 yang berjudul
“KenanganSolferino”
. Buku tersebut berkisah tentang kondisi yang ditimbulkan akibat perang danmencetuskan dua gagasan ;1.Membentuk organisasi sukarela untuk menolong prajurit yang terluka di medan perang.2.Perlunya perjanjian Internasional untuk perlindungan korban perang.

Komponen Gerakan
o
KOMITE INTERNASIONAL PALANG MERAH
o
FEDERASI INTERNASIONAL PERHIMPUNAN PALANG MERAH DAN BULAN SABITMERAH
o
PERHIMPUNAN NASIONAL PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH*KOMITE INTERNASIONAL PALANG MERAHBuku kenangan Solferino tersebut sangat menarik perhatian masyarakat diantaranya 4 orangpenduduk Jenewa. Mereka Adalah ;

Gustave Moynier

dr. Louis Appia

dr. Theodore Maunoir

Jenderal Guillame-Hendri Dufour
berlima dengan Jean Henry Dunant merekamembentuk suatu Komite Lima pada tahun 1863.Mereka merintis terbentuknya Komite InternasionalPalang Merah atau dikenal dengan namaInternational Committee of the Red Cross ( ICRC )pada tahun itu juga.Pada tanggal 22 Agustus 1864 atas prakarsa ICRCdiselenggarakanlah suatu Kenferensi yang diikutioleh 12 Kepala Negara yang menandatanganiKonvensi Jenewa I yang membahas perbaikan nasibtentara yang terluka di medan perang. Padakesempatan itu diresmikan lambang Palangberwarna merah diatas dasar putih, sebagailambang pelindung bagi para petugas penolong dimedan perang.Sementara dengan berkembangnya organisasi swasta yang independen dan tak berpolitik itu telahmemiliki anggota sukarelawan yang siap membantu korban yang terluka tanpa diskriminasi.

MATERI DASAR PMR WIRA
2.SIDANG UMUM diselenggarakan sedikitnya 2 (dua) tahun sekali dan dipimpin oleh KetuaFederasi.
Fungsi dan Tugas Federasi
1.Sebagai badan penghubung, koordinator, dan pendidik diantara perhimpunan-perhimpunannasional dan memberikan bantuan yang mungkin dibutuhkan mereka.2.Mendorong dan memajukan berdirinya suatu perhimpunan nasional dari setiap negara.3.Memberikan bantuan dengan segala cara yang dapat dilakukan kepada para korban bencana.4.Membantu perhimpunan nasional dalam kesiagaan pertolongan terhadap korban bencana alamtermasuk pengaturannya.5.Mengatur dan mengoordinasikan bantuan internasional secara langsung dan sesuai denganketentuan serta prinsip-prinsip internasional.6.Mendorong dan mengkoordinasikan keikutsertaan perhimpunan nasional dalam kegiatanpemeliharaan kesehatan dan memajukan kesejahteraan sosial masyarakat dengan carakerjasama dengan pejabat-pejabat yang berwenang setempat.7.Mendorong dan mengkoordinasikan pertukaran gagasan di antara perhimpunan nasional untukmendidik anak-anak dan remaja demi tercapainya cita-cita kemanusiaan dan perkembanganpersahabatan di antara mereka di semua negara.8.Membantu perhimpunan nasional dalam menanamkan prinsip-prinsip serta cita-cita dari GerakanPalang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.9.Memberikan pertolongan kepada para korban pertikaian bersenjata sesuai dengan persetujuanyang ditandatangani dengan Komite Internasional Palang Merah.10.Membantu komite internasional dalam memajukan dan mengembangkan HukumPerikemanusiaan Internasional dan bekerjasama dengannya dalam menyebarluaskan HPI danPrinsip-prinsip Dasar Gerakan pada Perhimpunan Nasional.11.Menjadi wakil resmi dari anggota perhimpunan nasional di kawasan internasional, antara lainmengambil keputusan dan rekomendasi yang telah disetujui dalam musyawarah dan menjagakeutuhan perhimpunan nasional serta melindungi kepentingannya.12.Menjalankan mandat yang dipercayakan padanya oleh konperensi internasional.
Slogan
Federasi mempunyai slogan yaitu ;”Per Humanitatem Ad Pacem”(latin)=
Perdamaian melalui kemanusiaan
“Trough Humanity To Peace” (inggris)*PERHIMPUNAN NASIONAL PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAHPerhimpunan Nasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah adalah organisasi kemanusiaan yangada di setiap negara anggota penandatangan Konvensi Jenewa. Tidak ada negara yang dapatmemiliki lebih dari satu Perhimpunan Nasional. Sebelum sebuah perhimpunan baru disetujui olehICRC dan menjadi anggota Federasi, beberapa syarat ketat harus dipenuhi. Menurut StatutaGerakan, Perhimpunan Nasional yang baru didirikan, harus disetujui oleh ICRC. Untuk dapatmemperoleh persetujuan dari ICRC, sebuah Perhimpunan Nasional harus memenuhi 10 syaratyaitu:1.Berdiri dalam suatu negera merdeka.2.Satu-satunya perhimpunan PM/BSM di negaranya.3.Diakui oleh pemerintah yang sah di negaranya.4.Mempunyai status otonomi/ bersifat mandiri.5.Memakai nama dan lambang PM/ BSM.6.Terorganisasi dalam melaksanakan tugasnya dan dilaksanakan diseluruh wilayah negaranya.7.Memperluas aktifitas/ kegiatannya di seluruh wilayah negaranya.8.Menerima anggota tanpa membedakan latar belakang.9.Taat pada anggaran dasar yang berlaku/ statuta gerakan.10.Menghormati Prinsip-prinsip Gerakan dan menjalankan tugasnya sesuai dengan prinsip-prinsipHPI.

Badan – badan dalam gerakan
Di dalam gerakan terdapat 2 badan yang amat penting baik dalam hubungannya dengan konperensiinternasional maupun dengan pembinaan komponen-komponen gerakan yaitu
STANDINGCOMMISSION
dan
COUNCIL OF DELEGATES
.

Prinsip Dasar
Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang kita kenalsekarang yang di proklamasikan dalam Konperensi Internasional Palang Merah dan Bulan SabitMerah tahun 1965 di Wina, Austria yaitu ;KEMANUSIAAN: Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional didirikanberdasarkan keinginan untuk memberikan pertolongan tanpa membedakankorban yang terluka di dalam pertempuran, berupaya dalam kemampuanbangsa dan antar bangsa, mencegah dan mengatasi penderitaan sesama

MATERI DASAR PMR WIRA
manusia. Palang Merah menumbuhkan rasa saling pengertian, persahabatan,kerjasama, dan perdamaian abadi bagi sesama manusia.KESAMAAN:Gerakan ini tidak membuat perbedaan atas dasar kebangsaan, kesukuan,agama/kepercayaan, tingkatan atau pandangan politik. Tujuannya semata-matamengurangi penderitaan manusia sesuai dengan kebutuhannya danmendahulukan keadaan yang paling parah.KENETRALAN:Agar senantiasa mendapat kepercayaan dari semua pihak, gerakan ini tidakboleh memihak atau melibatkan diri dalam pertentangan politik, kesukuan,agama, atau ideologi.KEMANDIRIAN:Gerakan ini bersifat mandiri. Perhimpunan nasional disamping membantupemerintahnya adalam bidang kemanusiaan, juga harus mentaati peraturannegaranya, harus selalu menjaga otonominya sehingga dapat bertindak sejalandengan prinsip-prinsip gerakan ini.KESUKARELAAN :Gerakan ini adalah gerakan pemberi bantuan sukarela, yang tidak didasari olehkeinginan untuk mencari keuntungan apa pun.KESATUAN:Di dalam suatu negara hanya ada satu perhimpunan Palang Merah atau BulanSabit Merah yang terbuka untuk semua orang dan melaksanakan tugaskemanusiaan di seluruh wilayahnya.KESEMESTAAN:Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional bersifat semesta.Setiap perhimpunan, mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalammenolong sesama manusia.

Sejarah Lambang
Tanda Palang Merah di atas dasar putih ditetapkan sebagai lambang tanda khusus bagi organisasisukarela untuk membantu prajurit yang luka dan sakit di medan pertempuran pada KonperensiInternasional tanggal 26-29 Oktober 1863 di Jenewa. Pada Konperensi Internasional 1949 masalahlambang akhirnya diputuskan hanya 3 (tiga) macam lambang saja yang digunakan bagiperhimpunan nasional yaitu ; PALANG MERAH, BULAN SABIT MERAH, dan SINGA MATAHARIMERAH.Pada tahun 2005 Kristal Merah diatas dasar putih juga diadopsi menjadi lambang alternative apabiladi suatu negara terjadi konflik bersenjata/ perang atau bencana, maka negara yang menggunakanLambang Palang Merah atau Bulan Sabit Merah, dapat sementara menggunakannya pada saatkegiatan kepalangmerahan dilaksanakan di daerah tersebut.Tanda Palang Merah, Bulan Sabit Merah dan Kristal Merah diatas dasar putih ditetapkan sebagailambang khusus untuk perlindungan, dimana setiap negara hanya boleh menggunakan satulambang.
Dasar Hukum
Berdasarkan Hukum Internasional masalah lambang diatur dalam :1.Konvensi Jenewa I 1949 Pasal 38 s/d Pasal 44, Pasal 53 dan Pasal 54.2.Konvensi Jenewa II 1949 Pasal 41 s/d Pasal 45.3.Konvensi Jenewa IV 1949 Pasal 18 s/d Pasal 22.4.Protokol Tambahan I 1977 Pasal 18, Pasal 85 dan Annex I Pasal 1 s/d 5.5.Protokol Tambahan II 1977 pasal 12.6.Ketetapan Konperensi Internasional Palang Merah XX tahun 1965.7.Hasil kerja Dewan Delegasi Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasionaltahun 1991.

Fungsi Lambang
Ada 2 fungsi / macam penggunaan lambang yaitu ;1.Sebagai tanda Perlindungan ( di waktu perang )2.Sebagai tanda Pengenal ( diwaktu perang dan di waktu damai )

Penyalahgunaan Lambang
Setiap negara peserta Konvensi Jenewa memiliki kewajiban membuat peraturan atau undang-undang untuk mencegah dan mengurangi penyalahgunaan Lambang. Negara secara khusus harusmengesahkan suatu
peraturan untuk melindungi
Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.Dengan demikian, pemakaian Lambang yang tidak diperbolehkan oleh Konvensi Jenewa danProtokol Tambahan merupakan pelanggaran hukum. Bentuk-bentuk penyalahgunaan Lambangyaitu:
> Peniruan (
Imitation

MATERI DASAR PMR WIRA
Penggunaan tanda-tanda yang dapat disalah artikan sebagai lambang Palang Merah atau bulansabit merah (misalnya warna dan bentuk yang mirip). Biasanya digunakan untuk tujuan komersial.
> Penggunaan yang Tidak Tepat (
Usurpation
):
Penggunaan lambang Palang Merah atau bulan sabit merah oleh kelompok atau perseorangan(perusahaan komersial, organisasi non-pemerintah, perseorangan, dokter swasta, apoteker dsb)atau penggunaan lambang oleh orang yang berhak namun digunakan untuk tujuan yang tidaksesuai dengan Prinsip-prinsip Dasar Gerakan (misalnya seseorang yang berhak menggunakanlambang namun menggunakannya untuk dapat melewati batas negara dengan lebih mudah padasaat tidak sedang tugas).
> Penggunaan yang Melanggar Ketentuan/Pelanggaran Berat(
Perfidy/Grave

misuse
)
Penggunaan lambang Palang Merah atau bulan sabit merah dalam masa perang untukmelindungi kombatan bersenjata atau perlengkapan militer (misalnya ambulans atau helikopter ditandai dengan lambang untuk mengangkut kombatan yang bersenjata; tempat penimbunanamunisi dilindungi dengan bendera Palang Merah) dianggap sebagai kejahatan perang.
B.HUKUM PERIKEMANUSIAAN INTERNASIONALSejarah HPI
Salah apabila kita mengatakan bahwa pendirian Palang Merah di tahun 1863 ataupunpengadopsian Konvensi Jenewa pertama tahun 1864 menandakan kelahiran hukum perikemanusiaansebagaimana yang kita kenal saat ini. Sebagaimana tidak ada satu masyarakat yang tidak memilikiseperangkat aturan, begitu pula tidak pernah ada perang yang tidak memiliki aturan jelas maupunsamar-samar yang mengatur tentang mulai dan berakhirnya suatu permusuhan, serta bagaimanaperang itu dilaksanakan.HPI sudah terintis sejak dulu sebelum Gerakan berdiri
.
Pada awalnya ada
aturan tidak tertulisberdasarkan kebiasaan
yang mengatur tentang sengketa bersenjata. Kemudian
perjanjian bilateral
(kartel) yang kerincian aturannya berbeda-beda, lambat-laun mulai diberlakukan. Pihak-pihak yangbertikai kadangkala meratifikasinya setelah permusuhan berakhir. Ada pula
peraturan
yang dikeluarkanoleh negara kepada pasukannya
(lihat “Kode Lieber”)
. Hukum yang saat itu ada terbatas pada waktu dantempat, karena hanya berlaku pada satu pertempuran atau sengketa tertentu saja. Aturannya jugabervariasi, tergantung pada masa, tempat, moral dan keberadaban.Dari sejak permulaan perang sampai pada munculnya hukum perikemanusiaan yang kontemporer,
lebih dari 500 kartel, aturan bertindak
(code of conduct)
, perjanjian dan tulisan-tulisan lain
yangdirancang untuk mengatur tentang pertikaian telah dicatat. Termasuk di dalamnya
Lieber Code
, yangmulai berlaku pada bulan April 1863 dan memiliki nilai penting karena menandakan percobaan pertamauntuk mengkodifikasi hukum dan kebiasaan perang yang ada. Namun, tidak seperti Kovensi Jenewayang dibentuk setahun setelah itu, Lieber Code ini tidak memiliki status perjanjian sebagaimana yangdimaksudkannya karena hanya diberlakukan kepada tentara Union yang berperang pada waktu PerangSaudara di Amerika.Ada dua pria memegang peran penting dalam pembentukan HPI selanjutnya, yaitu
Henry Dunant
dan
Guillaume-Henri Dufour
. Dunant memformulasikan gagasan tersebut dalam
Kenangan dariSolferino (
A Memory of Solferino
)
, diterbitkan tahun 1862. Berdasarkan pengalamannya dalamperang, General Dufour tanpa membuang-buang waktu menyumbangkan dukungan moralnya, salahsatunya dengan memimpin Konferensi Diplomatik tahun 1864.Terhadap usulan dari kelima anggota pendiri
ICRC,
Pemerintah Swiss

mengadakan
KonferensiDiplomatik
tahun 1864, yang dihadiri oleh 16 negara yang mengadopsi
Konvensi Jenewa untukperbaikan keadaan yang luka dan sakit dalam angkatan bersenjata di medan pertempuran darat.
DEFINISI
Hukum Perikemanusiaan Internasional membentuk sebagian besar dari Hukum Internasional Publikdan terdiri dari peraturan yang melindungi orang yang tidak atau tidak lagi terlibat dalam persengketaandan membatasi alat dan cara berperang di masa sengketa bersenjata.Lebih tepatnya, yang dimaksud
ICRC
dengan hukum perikemanusiaan yang berlaku di masasengketa bersenjata adalah semua ketentuan yang terdiri dari perjanjian dan kebiasaan internasionalyang bermaksud untuk mengatasi segala masalah kemanusiaan yang timbul pada waktu pertikaianbersenjata internasional maupun non-internasional; hukum tersebut membatasi atas dasar kemanusiaan, hak-hak dari pihak yang terlibat dalam pertikaian untuk memilih cara-cara dan alatpeperangan, serta memberikan perlindungan kepada orang yang menjadi korban maupun harta bendayang terkena dampak pertikaian bersenjata.Kombatan hanya boleh menyerang target militer, wajib menghormati non-kombatan dan objek sipildan menghindari penggunaan kekerasan yang berlebihan. Istilah
hukum perikemanusiaaninternasional, hukum humaniter
,
hukum sengketa bersenjata
dan
hukum perang
dapat dikatakansama pengertiannya. Organisasi internasional, perguruan tinggi dan bahkan Negara cenderungmenggunakan istilah hukum perikemanusiaan internasional (atau hukum humaniter), sedangkan istilah
MATERI DASAR PMR WIRA
hukum sengketa bersenjata dan hukum perang biasa digunakan oleh angkatan bersenjata. PalangMerah Indonesia sendiri menggunakan istilah Hukum Perikemanusiaan Internasional.
HUKUM JENEWA dan HUKUM DEN HAAG
Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI) – dikenal juga dengan nama hukum sengketa bersenjataatau hukum perang – memiliki dua cabang yang terpisah:>
Hukum Jenewa,
atau

hukum humaniter, yaitu hukum

yang dibentuk untuk melindungi personilmiliter yang tidak lagi terlibat dalam peperangan dan mereka yang tidak terlibat secara aktif dalampertikaian, terutama penduduk sipil;>
Hukum Den Haag,
atau hukum perang, adalah hukum yang menentukan hak dan kewajiban pihakyang bertikai dalam melaksanakan operasi militer dan membatasi cara penyerangan.Kedua cabang HPI ini tidaklah benar-benar terpisah, karena efek beberapa aturan dalam hukum DenHaag adalah melindungi korban sengketa, sementara efek dari beberapa aturan hukum Jenewa adalahmembatasi tindakan yang diambil oleh pihak yang bertikai di masa perperangan. Dengan mengadopsiProtokol Tambahan 1977 yang mengkombinasikan kedua cabang HPI, pembedaan di atas kini tinggalmemiliki nilai
sejarah
dan
pendidikan.
PRINSIP
Hukum perikemanusiaan didasarkan pada
prinsip pembedaan
antara kombatan dan non-kombatanserta antara objek sipil dan objek militer.
Prinsip
necessity
atau kepentingan kemanusiaan danmiliter,
perlunya menjaga keseimbangan antara kepentingan kemanusiaan di satu pihak dengankebutuhan militer dan keamanan di pihak lain.
Prinsip pencegahan penderitaan yang tidak perlu(
unecessary suffering
),
yaitu hak pihak yang bertikai untuk memilih cara dan alat untuk berperangtidaklah tak terbatas, dan para pihak tidak diperbolehkan mengakibatkan penderitaan dan kehancuransecara melampaui batas serta tidak seimbang dengan tujuan yang hendak dicapai, yaitu melemahkanatau menghancurkan potensi militer lawan.
Prinsip proporsionalitas,
mencoba untuk menjagakeseimbangan antara dua kepentingan yang berbeda, kepentingan yang berdasarkan pertimbanganatas kebutuhan militer, dan yang lainnya berdasarkan tuntutan kemanusiaan, apabila hak ataularangannya tidak mutlak.
ATURAN DASAR
ICRC telah memformulasikan tujuh aturan yang mencakup inti dari hukum perikemanusian internasional.Aturan-aturan ini tidak memiliki kekuatan hukum seperti sebuah perangkat hukum internasional dan tidakdimaksudkan untuk menggantikan perjanjian-perjanjian yang berlaku.
1. Orang yang tidak atau tidak dapat lagi mengambil bagian dalam pertikaian
patut memperolehpenghormatan atas hidupnya, atas keutuhan harga diri dan fisiknya. Dalam setiap kondisi, merekaharus dilidungi dan diperlakukan secara manusiawi, tanpa pembedaan berdasarkan apa pun.
2. Dilarang untuk membunuh atau melukai lawan yang menyerah
atau yang tidak dapat lagi ikutserta dalam pertempuran.
3. Mereka yang terluka dan yang sakit harus dikumpulkan dan dirawat
oleh pihak bertikai yangmenguasai mereka. Personil medis, sarana medis, transportasi medis dan peralatan medis harusdilindungi. Lambang palang merah atau bulan sabit merah di atas dasar putih adalah tandaperlindungan atas personil dan objek tersebut di atas, dan harus dihormati.
4. Kombatan dan penduduk sipil
yang berada di bawah penguasaan pihak lawan
berhak untukmemperoleh penghormatan
atas hidup, harga diri, hak pribadi, keyakinan politik, agama dankeyakinan lainnya. Mereka harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan ataupun balas dendam.Mereka berhak berkomunikasi dengan keluarganya serta berhak menerima bantuan.
5. Setiap orang berhak atas jaminan peradilan
dan tak seorangpun dapat dituntut untukbertanggungjawab atas suatu tindakan yang tidak dilakukannya. Tidak seorangpun dapat dijadikansasaran penyiksaan fisik maupun mental atau hukuman badan yang kejam yang merendahkanmartabat ataupun perlakuan lainnya.
6. Tidak satu pun pihak bertikai
maupun anggota angkatan bersenjatanya
mempunyai hak takterbatas untuk memilih cara dan alat
berperang. Dilarang untuk menggunakan alat dan caraberperang yang berpotensi mengakibatkan penderitaan dan kerugian yang tak perlu.
7.
Pihak bertikai harus selalu
membedakan antara penduduk sipil dan kombatan
dalam rangkamelindungi penduduk sipil dan hak milik mereka. Penduduk sipil, baik secara keseluruhan maupunperseorangan tidak boleh diserang. Penyerangan hanya boleh dilakukan semata-mata kepada objekmiliter.
KONVENSI JENEWA
Konvensi Jenewa 1864 meletakkan dasar-dasar bagi hukum perikemanusiaan modern. Karakter utamanya adalah:a.aturan tertulis yang memiliki jangkauan internasional untukmelindungi korban sengketa;
PMI CABANG KOTA BLITAR
Hal 6 dari 80 Halaman


MATERI DASAR PMR WIRA
b.sifatnya multilateral, terbuka untuk semua negara;c.adanya kewajiban untuk melakukan perawatan tanpadiskriminasi kepada personil militer yang terluka dan sakit;d.penghormatan dan pemberian tanda kepada personil medis,transportasi dan perlengkapannya menggunakan sebuah lambang (palang merah di atas dasar putih).Diawali dengan Konvensi Jenewa pertama tahun 1864, hukum perikemanusiaan modernberkembang dalam berbagai tahap, seringkali setelah sebuah kejadian di mana konvensi tersebutdibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan akan bantuan kemanusiaan yang terus berkembang sebagaiakibat dari perkembangan dalam persenjataan serta jenis-jenis sengketa.Perang Dunia I (1914-1918) menyaksikan penggunaan cara perang yang, (kalau tidak dapatdikatakan baru) dilakukan dalam skala yang tidak dikenal sebelumnya. Termasuk di dalamnya gasberacun, pemboman dari udara, dan penangkapan ratusan tawanan perang.
Perjanjian di tahun 1925dan 1929
merupakan tanggapan dari perkembangan ini.Perang Dunia II (1939-1945) menyaksikan penduduk sipil dan personil militer tewas dalam jumlahyang seimbang, berbeda dengan saat Perang Dunia I, di mana perbandingannya adalah 1:10. Tahun1949 masyarakat internasional bereaksi terhadap angka yang tragis tersebut, terlebih lagi terhadap efekburuk yang menimpa penduduk sipil, dengan merevisi Konvensi yang saat itu sedang berlaku danmengadopsi perangkat hukum lain:
Konvensi Jenewa ke-4
tentang perlindungan terhadap penduduksipil. Belakangan di tahun 1977,
Protokol Tambahan
merupakan tanggapan atas efek kemanusiaandalam perang kemerdekaan nasional, yang hanya diatur sebagian di dalam Konvensi 1949.
Keempat Konvensi Jenewa
menegaskan penghormatan yang harus diberikan kepada setiappribadi pada masa sengketa bersenjata. Keempat Konvensi tersebut adalah:
I.
Perbaikan keadaan yang luka dan sakit dalam angkatan bersenjata di medan pertempuran darat
II.
Perbaikan keadaan anggota angkatan bersenjata di laut yang luka, sakit dan korban karam
III.
Perlakuan tawanan perang
IV.
Perlindungan penduduk sipil di waktu perang
PROTOKOL TAMBAHAN 1977
Protokol Tambahan
merupakan tanggapan atas efek kemanusiaan dalam perang kemerdekaannasional, yang hanya diatur sebagian di dalam Konvensi 1949. Dua protokol tambahan diadopsi, yangmenguatkan perlindungan terhadap korban sengketa internasional (protokol I) dan sengketa non-internasional (protokol II).
Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 terdiri hampir 600pasal dan merupakan perangkat utama hukum perikemanusiaan internasional.
Hanya sebuahnegara yang dapat menjadi peserta perjanjian internasional, begitu pula untuk menjadi peserta KonvensiJenewa dan Protokol Tambahannya.

Di tahun 2002 hampir semua negara di dunia – 190 tepatnya –menjadi peserta Konvensi Jenewa. Fakta bahwa perjanjian ini merupakan salah satu yang diterima disejumlah besar negara membuktikan kesemestaannya. Sedangkan mengenai Protokol Tambahannya,157 negara menjadi peserta Protokol I dan 150 peserta Protokol II.
HPI dan HAM
Hukum perikemanusiaan internasional
dan
hukum hak asasi manusia internasional
(selanjutnya disebut hukum HAM) saling melengkapi. Keduanya bermaksud untuk melindungi individu,walaupun dilaksanakan dalam situasi dan cara yang berbeda.
HPI
berlaku dalam situasi sengketabersenjata, sedangkan
hukum HAM
atau setidaknya sebagian daripadanya, melindungi individu disetiap saat, dalam masa perang maupun damai.

Tujuan dari
HPI
adalah melindungi korban denganberusaha membatasi penderitaan yang diakibatkan oleh perang,
hukum HAM
bertujuan untukmelindungi individu dan menjamin perkembangannya.Kepedulian utama HPI adalah mengenai perlakuan terhadap individu yang jatuh ke tangan pihaklawan dan mengenai metode peperangan, sedangkan hukum HAM pada intinya mencegah perlakuansemena-mena dengan membatasi kekuasaan negara atas individu. Hukum HAM tidak bertujuan untukmengatur bagaimana suatu operasi militer dilaksanakan. Untuk memastikan penghormatannya,
HPI
membentuk suatu mekanisme yang mengadakan sebuah bentuk pengawasan terus-menerus ataspelaksanaannya; mekanisme itu memberi penekanan pada kerjasama antara para pihak yangbersengketa dengan penengah yang netral, dengan tujuan untuk mencegah pelanggaran. Sebagaikonsekwensinya, pendekatan
ICRC
yang perannya menjamin penghormatan terhadap HPI memberikanprioritas pada persuasi.Mekanisme untuk memonitor
hukum HAM
sangat bevariasi. Dalam banyak kasus, lembaga yangberwenang dituntut untuk menentukan apakan sebuah negara telah menghormati hukum. Contohnya,Mahkamah HAM Eropa, setelah penyelesaian pendahuluan oleh seseorang, dapat menyatakan bahwaKonvensi HAM Eropa telah dilanggar oleh penguasa negara. Penguasa ini selanjutnya wajib untukmengambil langkah yang perlu untuk memastikan bahwa situasi internal itu sesuai dengan persyaratanyang diminta oleh Konvensi. Mekanisme pelaksanaan HAM pada intinya bermaksud untuk meluruskansegala kerusakan yang terjadi.
MATERI DASAR PMR WIRA
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PMI mengatur hal – hal sebagai berikut:1.Nama, waktu, status dan kedudukan2.Asas dan tujuan3.Prinsip dasar 4.Lambang dan Lagu5.Pelindung6.Keanggotaan7.Susunan Organisasi8.Musyawarah dan Rapat9.Kepengurusan10.Markas11.Upaya Kesehatan Transfusi Darah12.Hubungan dan Kerjasama13.Perbendaharaan14.Pembinaan15.Pembekuan Pengurus16.Penghargaan17.Perubahan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah TanggaSebagai lampiran juga terdapat :1.Lambang ( gambar & penjelasan )2.Lagu Hymne PMI dan Mars PMI (syair dan notasi nada )3.Salinan Keppres No. 25 Tahun 1950 dan Keppres No. 246 Tahun 19634.Susunan Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia Masa Bakti yang berlaku
-Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1980
PP No. 18 Tahun 1980 adalah keputusan pemerintah yang memberikan tugas khusus kepada PalangMerah Indonesia untuk menyelenggarakan Upaya Kesehatan Transfusi Darah (UKTD).Tugas ini dilaksanakan secara tersendiri, otonom dengan, bimbingan, pengawasan dan pembinaan,baik oleh jajaran Kepengurusan PMI maupun jajaran Departemen Kesehatan.Kegiatan ini mencakup :

Pemilihan (seleksi) penyumbang darah

Penyadapan darah

Pengamanan darah

Penyimpanan darah

Penyampaian darahPengadaan darah dilakukan atas dasar ‘’ sukarela ‘’ tanpa maksud mencari keuntungan maupunmenjadikan darah objek jual beli.Hasil kegiatan UKTD PMI adalah darah yang sehat, aman dan tersedia tepat waktu. Disamping itudarah dapat diolah menjadi komponen – komponen darah yang dapat diberikan kepada pasien dengantepat sesuai kebutuhan.Donor Darah Sukarela (DDS) adalah donor darah yang memberikan darahnya dengan sukarela tanpamelihat sendiri atau mengetahui kepada siapa darah itu diberikan.Donor Darah Pengganti (DDP) adalah donor darah yang darahnya diberikan untuk menolongsaudaranya atau temannya yang sakit yang memerlukan darah.
-Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 023/Birhub/1972
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 023/Birhub/1972, PMI dapat menyelenggarakanPertolongan Pertama maupun menyelenggarakan pendidikan Pertolongan Pertama serta dapatmendirikan pos pertolongan pertama.Peraturan ini menjadi dasar bagi Palang Merah Indonesia dalam menyebarluaskan ketrampilanPertolongan Pertama baik bagi internal PMI maupun kepada eksternal PMI.
Sistem dan Struktur Organisasi PMI
Palang Merah Indonesia (PMI), adalah lembaga sosial kemanusiaan yang netral dan mandiri, yangdidirikan dengan tujuan untuk membantu meringankan penderitaan sesama manusia akibat bencana,baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia, tanpa membedakan latar belakang korbanyang ditolong.Tujuannya semata - mata hanya untuk mengurangi penderitaan sesama manusia sesuai dengankebutuhan dan mendahulukan keadaan yang lebih parah.


MATERI DASAR PMR WIRA
b.Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat.
-
Pelaksanaan program pelayanan sosial kesehatan masyarakat.
-
Bekerja sama dengan jasa Raharja dan Kepolisian untuk pertolongan korban kecelakaan.
-
Pelaksanaan pelayanan kepada kelompok lanjut usia dengan pendekatan perawatankeluarga oleh KSR dan PMR.c.Usaha Kesehatan Tranfusi Darah.
-
Peningkatan Jumlah Donor Darah Sukarela melalui penyuluhan, penyediaan darah yangbermutu serta subsidi service cost.
-
Pemantapan pembinaan teknis verifikasi usaha kesehatan tranfusi darah secara berjenjang.
-
Peningkatan kualitas tenaga Unit Tranfusi Darah disetiap Cabang.
-
Secara bertahap melaksanakan akreditas Unit Tranfusi Darah Cabang.3.Pembinaan Generasi Muda.a.Pembinaan remaja dan mahasiswa dengan pembentukan Kelompok Palang Merah Remajadan Unit Korps Sukarela PMI di semua jajaran serta peningkatan pembinaan danpengembangan terpadu Palang Merah Remaja ( PMR ) dan Korps Sukarela ( KSR ).b.Pelatihan dan pembinaan Pemuda Sebaya dalam pelayanan kepalang merahan, kesehatandan kesejahteraan, persahabatan serta pengabdian masyarakat.4.Konsilidasi Organisasi.a.Pemantapan organisasi secara berjenjang melalui Musyawarah Nasional ( Pengurus Pusat ),Musyawarah Daerah ( Pengurus Daerah Propinsi ), Musyawarah Cabang ( Pengurus CabangKota/ Kab. ), Musyawarah Ranting ( Pengurus Kecamatan ).b.Peningkatan pembinaan dan pengembangan relawan, Korps Sukarela ( KSR ), Palang MerahRemaja ( PMR ), Tenaga Sukarela ( TSR ) serta Donor Darah Sukarela ( DDS ).c.Peningkatan sistem informasi kegiatan kepalang merahan melalui laporan rutin, media cetakdan elektronik.
KEGIATAN-KEGIATAN PMI
Bidang Pendidikan dan Latihan
-
Menyebarluaskan hasil pendidikan dan pelatihan secara berjenjang.
-
Inventarisasi dan pengingkatan mutu pelatih PMI.
-
Pembinaan generasi muda melalui kegiatan Jumpa Bakti dan Gembira( Jumbara ) PMR dan Temu Karya KSR serta latihan bersama.
-
Pelatihan Pendidikan Remaja Sebaya ( PRS ) untuk membantu Remajadalam menggulangi merebaknya korban Narkoba, HIV/AIDSBidang Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana.
-
Penyiapan Tim Satuan Tugas Penanggulangan Bencana ( SATGANA ) dimasing-masing Cabangdan Ranting.
-
Peningkatan kemampuan Tim SATGANA dan kelengkapan sarana dan prasarana.
-
Menyusun pendataan / peta daerah rawan bencana.
-
Menyiapkan logistik awal dengan kesiapan Posko Penanggulangan Bencana bekerjasama denganSatlak PB.
-
Meningkatkan kemampuan pendataan dan layanan Tracing and Mailing Service ( TMS ).
-
Membentuk Tim inti/ elit SATGANA yang di beri nama TBRC ( Tim Bantuan Reaksi Cepat ).Bidang Tranfusi Darah.
-
Meningkatkan pelayanan UTDC secara maksimal dengan servise cost yang rasional.
-
Pembinaan Donor Darah Sukarela melalui pertemuan, penyerahan piagam penghargaan.
-
Penyempurnaan peralatan di Unit Tranfusi Darah.
-
Meningkatkan mutu pelayanan melalui Uji Saring Darah.Bidang Sarana dan Prasarana.
-
Secara bertahap melengkapi sarana pendukung operasional.
-
Perawatan / pemeliharaan sarana yang tersedia.
-
Inventarisasi sarana sesuai penggunaannya.
KERJASAMA INTERNASIONAL
Dalam menghadapi tantangan kemanusiaan pada dekade mendatang telah ditetapkan Srategi 2010yaitu MEMPERBAIKI HAJAT HIDUP MASYARAKAT RENTAN DENGAN MEMOBILISASI KEKUATANMANUSIA dengan tujuan utama :
-
Mencegah penderitaan dengan membantu masyarakat menyiapkan danmencegah kondisi yang menambah berentanan.
-
Membantu masyarakat yang menderita karena masyarakatnya kondisiberentanan akibat bencana atau krisis.
-
Meredakan penderitaan dengan mengurangi kondisi rentan melaluikestabilan keamanan sisial ekonomi.Untuk menjalin kerjasama internasional perlu mengenal lembaga kapalang merahan internasional.
ICRC
(
>Internasional Comite of the Red Cross
) Adalah
Lembaga kemanusiaan yang bersifat mandiri, merupakan pendiri gerakan kepalangmerahan sebagai penegak yang netral berdasarkan konvensi jenewa 1949, memberi perlindungan dan bantuan kepada para korban dalam pertikaian bersenjata Internasional maupun kekacauan dalam negeri.
PMI CABANG KOTA BLITAR
Hal 11 dari 80 Halaman



MATERI DASAR PMR WIRA
IFRC
(
Internasional Federation of the Red Cross
) Adalah
Lembaga yang memajukan dan mempromosikan perikemanusiaan Nasional dalam kegiatankemanusiaan untuk masyarakat yang menderita.
Federasi berusaha mencegah dan meringankan penderitaan mereka dengan mengkoordinir bantuanbencana internasional dan mengupayakan dukungan pengembangan.Sampai sekarang diseluruh dunia terdapat 176 Perhimpunan Nasional, termasuk didalamnya PMI.Kegiatan perhimpunan nasional beragam diantaranya bantuan darurat pada bencana, pelayanankesehatan bantuan sosial, pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan serta pelayanan tranfusidarah.
LAIN-LAIN
Ketua PMI yang pertama adalah
MOH. HATTA
yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RIdan kemudian beliau lebih dikenal dengan
Bapak Palang

Merah Indonesia.
NAMA-NAMA TOKOH YANG PERNAH MENJADI KETUA PMI PUSAT
1.Ketua PMI ke-Satu : Drs. Moh. Hatta = Tahun 1945 – Tahun 19462.Ketua PMI ke-Dua : Soetardjo Kartohadikoesoemo = Tahun 1946 – Tahun 19483.Ketua PMI ke-Tiga : BPH Bintaro = Tahun 1948 – Tahun 19524.Ketua PMI ke-Empat : Prof. Dr. Bahder Djohan = Tahun 1952 – Tahun 19545.Ketua PMI ke-Lima : P.A.A Paku Alam VIII = Tahun 1954 – Tahun 19666.Ketua PMI ke-Enam : Letjen Basuki Rahmat = Tahun 1966 – tahun 19697.Ketua PMI ke-Tujuh : Prof. Dr. Satria = Tahun 1969 – Tahun 19828.Ketua PMI ke-Delapan : dr. Soeyoso Soemidimejo = Tahun 1982 – Tahun 19869.Ketua PMI ke-Sembilan : Dr. H. Ibnu Sutowo = Tahun 1986 – Tahun 199410.Ketua PMI ke-Sepuluh : Hj. Siti Hardiyanti Rukmana = Tahun 1994 – Tahun 199911.Ketua PMI ke-Sebelas : Mar’ie Muhammad = Tahun 1999 – 200912.Ketua PMI ke-Duabelas : Yusuf Kalla = tahun 2009 – 2014
D.PALANG MERAH REMAJA ( WIRA )
Sejarah Singkat
PMR dibentuk oleh PMI pada Kongres PMI tanggal 25-27 Januari 1950 di Jakarta. Palang MerahRemaja dulu bernama Palang Merah Pemuda (PMP ) didirikan tanggal
1 Maret 1950
dipimpin oleh Nn.Siti Dasimah.Saat itu 15 Cabang PMI yang memiliki PMP dengan 2047 anggota. Hal itu merupakanperwujudan dari keputusan Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.Terbentuknya PMR di Indonesia atau dibeberapa Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit MerahNasional dilatar belakangi oleh Perang Dunia I ( PD I ). Pada waktu itu Austria juga mengalamipeperangan, dimana Palang Merah Austria mengerahkan anak-anak sekolah supaya turut membantusesuai dengan kemampuannya. Kepada mereka diberi tugas yang ringan seperti ; mengumpulkanpakaian bekas, menghimpunmajalah bekas dari dermawan, menggulung pembalut dan sebagainya.Anak-anak tersebut dihimpun dalam sebuah organisasi yang dinamakan “Palang Merah Remaja”.Kemudian prakarsa ini diterima Liga Perhimpunan Palang Merah Dan Bulan Sabit Merah Nasional.Pada sidang pertama tahun 1919, diputuskan bahwa Gerakan Palang Merah Remaja menjadi suatubagian dari Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Kemudian usaha itu diikuti oleh negaralain. Pada tahun 1990 dari 149 Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah sebagian besar sudah memiliki PMR.Lingkup kegiatan PMR Wira ;
o
Membantu meringankan pekerjaan orang tua.
o
Menjaga kebersihan sekolah, menolongteman yang sakit atau menengok yang sakit.
o
Mengadakan kunjungan/ anjangsana ke PantiAsuhan.
o
Petugas P3K dan UKS.
o
Membantu penyelenggaraan Posyandu.
o
Anjangsana antar anggota PMR dalam danluar negeri.Dan lain sebagainya
Struktur PMR
1.
PMR Mula : SD/MI: usia 10 – 12 tahun2.PMR Madya: SMP/MTs: usia 12 – 15 tahun3.PMR Wira: SMA/MA: usia 15 – 17 tahun
Tri Bakti PMR
a.Berbakti kepada masyarakat.b.Mempertinggi keterampilan serta memeliharan kebersihan dankesehatan.c.Mempererat persahabatan Nasional dan Internasional.
Tugas dan Peran PMR Wira
PMI CABANG KOTA BLITAR
Hal 12 dari 80 Halaman


MATERI DASAR PMR WIRA
Tugas1.Belajar dan berlatih untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.2.Menjadi suri teladan dalam kehidupan sehari-hari kepada remaja yang sebaya.3.Memelihara kebersihan, kesehatan pribadi dan lingkungannya.4.Ikut serta dalam kegiatan meringankan penderitaan akibat kecelakaan, musibah/bencana.Perana.Sebagai tenaga pembantu PMI dalam melaksanakan tugas kemanusiaan, seperti P3K, kejadianmusibah/ bencana di bidang Dapur Umum, pengungsian, penampungan sementara dan evakuasikorban.b.Ikut membantu pemerintah dalam rangka Pembangunan Kesehatan Masyarakat ( PKM ) sepertipenimbangan balita, peningkatan gizi keluarga dan kesejahteraan masyarakat ( KM ).
Hak dan Kewajiban Anggota PMR
a.Hak Anggota PMR1)Mendapatkan pembinaan dan pengembangan oleh PMI2)Menyampaikan pendapat dalam forum/pertemuan resmi PMI3)Berpartisipasi aktif dalam kegiatan PMR4)Mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA)b.Kewajiban Anggota PMR1.Menjalankan dan membantu menyebarluaskan prinsip-prinsip dasar gerakan Palang Merah dan kegiatan PMI2.Mematuhi AD/ART3.Melaksanakan Tri Bhakti PMR4.Menjaga nama baik PMI5.Membayar uang iuran keaggotaan
Lingkup Kegiatan PMR Wira dalam Tri Bakti
Berbakti kepada masyarakat
<<<<<<<<<<,<<1)Dapat menyanyikan lagu Mars PMI dan Bakti Remaja2)Dapat membuat bagan struktur organisasi PMR3)Tahu alamat PMI Cabang, PMI Daerah serta Markas Pusat PMI4)Tahu susunan pengurus PMI Cabang dan PMI Daerah serta PMI Pusat5)Tahu kegiatan dan tanda pengenal PMR6)Tahu tempat puskesmas, rumah sakit, bidan, dan dokter dilingkungannya7)Tahu cara menghubungi tenaga kesehatan dilingkungannya8)Menengok teman yang sakit9)Membantu orang tua menyelesaikan pekerjaan rumah10)Tahu alamat rumah sendiri11)Tahu cara menjaga kebersihan lingkungan12)Pernah ikut gotong royong , membersihkan tempat ibadah, sekolah, rumah sakit,puskesmas dan lingkungan tempat tinggalnya13)Pernah menyumbang tenaga/materi kepada korban bencana14)Melaksanakan kegiatan bakti masyarakat, misal sosialisasi pencegahan penyakit/bencanadilingkungan sekolah dan keluarga15)Melaksanakan lomba lingkungan sekolah sehat16)Melaksanakan kunjungan sosial17)Membantu tugas-tugas UTDC dalam kegiatan sosialisasi dan motivasi donor darah siswa18)Menjadi donor darah siswa19)Membantu kegiatan posyandu diwilayahnyaMelaksanakan kegiatan bakti masyarakat, misal sosialisasi pencegahan penyakit/bencanadilingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat
Mempertinggi keterampilan serta memeliharan kebersihan dan kesehatan
1)Menjadi Pelatih Remaja Sebaya2)Dapat menjaga kebersihan, kesehatan diri dan keluarga, serta kerindangan lingkungan3)Mengenal oabt-obatan ringan dan manfaatnya4)Dapat melakukan pertolongan pertama kepada keluarga, dan teman sebayanya5)Dapat melakukan perawatan keluarga di rumah6)Mengikuti kegiatan kesehatan remaja7)Dapat melakukan kegiatan kesiapsiagaan bencana untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakatMelaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan di sekolah
Mempererat persahabatan Nasional dan Internasional
Menjalin persahabatan dengan anggota PMR dari PMI Daerah, PM/BSM, atau organisasi remaja lain:

Saling berkunjung untuk latihan bersama

Saling berkirim surat atau album persahabatan


MATERI DASAR PMR WIRA
e.Lencang Depan ( hanya dalam bentukberbanjar )f.Berhitung
BAB 3PERTOLONGAN PERTAMA ( PP )

DASAR PERTOLONGAN PERTAMAPertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukanpenanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
Tujuan Pertolongan Pertama
1.Menyelamatkan jiwa penderita2.Mencegah cacat3.Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu
Dalam perkembangannya tindakan pertolongan pertama diharapkan menjadi bagian dari suatu sistemyang dikenal dengan istilah Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, yaitu sistem pelayanankedaruratan bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang kesehatan.
Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu
:1.Akses dan KomunikasiMasyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupunyang khusus.2.Pelayanan Pra Rumah SakitSecara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.Klasifikasi Penolong:a.
Orang Awam
Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertamab.
Penolong pertama
Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMIc.
Tenaga Khusus/Terlatih
Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di Lapangan3.TansportasiMempersiapkan penderita untuk ditransportasi
Dasar Hukum
Di dalam undang-undang ditemukan beberapa pasal yang mengatur mengenai Pertolongan Pertama,namun belum dikuatkan dengan peraturan lain untuk melengkapinya. Beberapa pasal yangberhubungan dengan Pertolongan Pertama antara lain :


MATERI DASAR PMR WIRA
Persetujuan Pertolongan
Saat memberikan pertolongan sangat penting untuk meminta izin kepada korban terlebih dahulu ataukepada keluarga, orang disekitar bila korban tidak sadar. Ada 2 macam izin yang dikenal dalampertolongan pertama :
1.
Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat
(
Implied Consent
)Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidaksadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan persetujuan
2.
Pesetujuan yang dinyatakan
(
Expressed Consent
)Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.
Alat Perlindungan Diri
Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi dengan peralatan yangdikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :a.Sarung tangan lateksPada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.b.Kaca mata pelindungMata juga termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusiac.Baju pelindungMengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.d.Masker penolongMencegah penularan penyakit melalui udarae.Masker Resusitasi Jantung ParuMasker yang dipergunakan untuk memberikan bantuan napasf.HelmSeiring risiko adanya benturan pada kepala meningkat. Helm dapat mencegah terjadinya cederapada kepala saat melakukan pertolongan.
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :a.Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.b.Dapat menjangkau penderita.c.Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.d.Meminta bantuan/rujukan.e.Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban
.
PMI CABANG KOTA BLITAR
Hal 21 dari 80 Halaman
Semua carian tubuh dianggap menular
Untuk mencegah penularan penyakit melalui cairan tubuh:Mencuci TanganMembersihkan peralatanMencuciMembersihkan perlatan dengan sabun dan air DesinfeksiMenggunakan bahan kimia seperti alkohol untuk membunuh bakteri patogenSterilisasiProses menggunakan bahan kimia atau pemanasan untuk membunuh semuamikroorganisme.Menggunakan APD
Pasal 531 K U H Pidana
“Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang didalam keadaan bahaya maut, lalaimemberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapatdiberikannya atau diadakannya dengan tidak akan menguatirkan, bahwa ia sendiri atau oranglain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak- banyaknya Rp 4.500,-. Jika orang yang perlu ditolong itu mati, diancam dengan :
KUHP 45,165, 187, 304 s, 478, 525, 566

MATERI DASAR PMR WIRA
c.Bagaimana mengatasinyaSetelah keadaan di atasi barulah kita mendekati dan menolong korban. Adakalanya kedua ini berjalanbersamaan.
Tindakan saat tiba di lokasi
Bila anda sudah memastikan bahwa keadaan aman maka tindakan selanjutnya adalah :1.Memastikan keselamatan penolong, penderita, dan orang-orang di sekitar lokasi kejadian.2.Penolong harus memperkenalkan diri, bila memungkinkan:

Nama Penolong

Nama Organisasi

Permintaan izin untuk menolong dari penderita / orang3.Menentukan keadaan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini daripenderita.4.Mengenali dan mengatasi gangguan / cedera yang mengancam nyawa.5.Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan.6.Minta bantuan.
Sumber Informasi
Informasi tambahan mengenai kasus yang kita hadapi dapat diperoleh dari :

Kejadian itu sendiri.

Penderita (bila sadar).

Keluarga atau saksi.

Mekanisme kejadian.

Perubahan bentuk yang nyata atau cedera yang jelas.

Gejala atau tanda khas suatu cedera atau penyakit.
Penilaian Dini
Penolong harus mampu segera mampu untuk mengenali dan mengatasi keadaan yang mengancamnyawa korban.
Langkah-langkah penilaian dini
a.
Kesan

umum
Seiring mendekati penderita, penolong harus mementukan apakah situasi penderita tergolong
kasustrauma
atau
kasus medis
.
Kasus Trauma
– Mempunyai tanda – tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Kasus Medis
– Tanpa tanda – tanda yang terlihat atau teraba
b.
Periksa Respon
Cara sederhana untuk mendapatkan gambaran gangguan yang berkaitan dengan otak penderitaTerdapat 4 tingkat Respons penderita
A
=
Awas
Penderita sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungannya.
S
=
Suara
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara.
N = Nyeri
Penderita hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri yang diberikan oleh penolong, misalnya dicubit,tekanan pada tulang dada.
T = Tidak respon
Penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun yang diberikan oleh penolong. Tidak membukamata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali tidak bereaksi pada rangsang nyeri.
c.
Memastikan jalan napas terbuka dengan baik (Airway).
Jalan napas merupakan pintu gerbang masuknya oksigen ke dalam tubuh manusia. Apapaun usahayang dilakukan, namun bila jalan napas tertutup semuanya akan gagal.
a.Pasien dengan respon
Cara sederhana untuk menilai adalah dengan memperhatikan peserta saat berbicara. Adanyagangguan jalan napas biasanya akan berakibat pada gangguan bicara.
b.Pasien yang tidak respon
Pada penderita yang tidak respon, penolonglah yang harus mengambil inisiatif untuk membuka jalan napas. Cara membuka jalan napas yang dianjurkan adalah
angkat dagu tekan dahi
.Pastikan juga mulut korban bersih, tidak ada sisa makanan atau benda lain yang mungkinmenyumbat saluran napas
d.
Menilai pernapasan (Breathing)
Periksa ada tidaknya napas dengan jalan
lihat, dengar
dan
rasakan
, nilai selama
3 – 5 detikBernapas mudah dan lancar iii.Kualitas pernapasan normal(<8 x/menit dewasa, <10 x/menit anak – anak, 20 x/menit bayi)Pernapasan yang kurang baiki.Dada tidak naik atau turun secara penuhii.Terdapat kesulitan bernapasiii.Cyanosis (warna biru/abu – abu pada kulit, bibir, atau kuku)iv.Kualitas pernapasan tidak normal
e.
Menilai sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat
Pastikan denyut jantung cukup baik Pastikan bahwa tidak ada perdarahan yang dapat mengancamnyawa yang tidak terlihat. Pakaian tebal dapat mengumpulkan darah dalam jumlah yang cukupbanyak.
f.
Hubungi bantuan
Mintalah bantuan kepada orang lain atau tenaga terlatih lain. Pesan yang disampaikan harussingkat, jelas dan lengkap.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan rinci dan sistematis mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.Tiga metode pemeriksaan fisik:1.Penglihatan (Inspection)
2.
Perabaan (
Palpation
)
3.
Pendengaran (
Auscultation
)Jangan banyak membuang waktu untuk melakukan pemeriksaan secara rinci. Lakukan secara cepat tetapipastikan tidak ada yang terlewat. Pemeriksaan fisik memastikan bahwa tidak ada yang terlewat.Beberapa hal yang dapat dicari pada saat memeriksa korban :
P
erubahan bentuk - (
Deformities
) bandingkan sisi sakit dengan yang sehat
L
uka Terbuka- (
Open Ijuries
) biasanya terlihat adanya darah
N
yeri- (
Tenderness
) daerah yang cedera lunak bila ditekan
B
engkak- (
Swelling
) daerah yang cedera mengalami pembengkakan
Beberapa tanda cedera mungkin dapat jelas terlihat, banyak yang tidak terlihat dan menyimpanserius cedera potensial.Dengarkan penderita. Dengan mendengarkan dapat menunjukkan kepedulian danmemungkinkan mendapat informasi.Pemeriksaan fisik
(
Head to Toe
)Amati dan raba (menggunakan kedua tangan dan dengan tekanan), bandingkan (simetry), cium bauyang tidak biasa dan dengarkan (suara napas atau derit anggota tubuh), dalam urutan berikut:1.
Kepala

Kulit Kepala dan Tengkorak

Telinga dan Hidung

Pupil Mata

Mulut2.
Leher
3.
Dada

Periksa perubahan bentuk, luka terbuka, atau perubahan kekerasan

Rasakan perubahan bentuk tulang rusuk sampai ke tulang belakang

Lakukan perabaan pada tulang4.
Abdomen

Periksa rigiditas (kekerasan)

Periksa potensial luka dan infeksi

Mungkin terjadi cedera tidak terlihat, lakukan perabaan

Periksa adanya pembengkakan5.
Punggung

Periksa perubahan bentuk pada tulang rusuk

Periksa perubahan bentuk sepanjang tulang belakang6.
Pelvis
7.
Alat gerak atas
8.
Alat gerak bawahPemeriksaan tanda vital
PMI CABANG KOTA BLITAR
Hal 25 dari 80 Halaman
Penilaian dini harus diselesaikan dan semua keadaan yang mengancamnyawa sudah harus ditanggulangi sebelum melanjutkan pemeriksaan fisik.
MATERI DASAR PMR WIRA
ii.Bernapas mudah dan lancar iii.Kualitas pernapasan normal(<8 x/menit dewasa, <10 x/menit anak – anak, 20 x/menit bayi)Pernapasan yang kurang baiki.Dada tidak naik atau turun secara penuhii.Terdapat kesulitan bernapasiii.Cyanosis (warna biru/abu – abu pada kulit, bibir, atau kuku)iv.Kualitas pernapasan tidak normal
e.
Menilai sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat
Pastikan denyut jantung cukup baik Pastikan bahwa tidak ada perdarahan yang dapat mengancamnyawa yang tidak terlihat. Pakaian tebal dapat mengumpulkan darah dalam jumlah yang cukupbanyak.
f.
Hubungi bantuan
Mintalah bantuan kepada orang lain atau tenaga terlatih lain. Pesan yang disampaikan harussingkat, jelas dan lengkap.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan rinci dan sistematis mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.Tiga metode pemeriksaan fisik:1.Penglihatan (Inspection)
2.
Perabaan (
Palpation
)
3.
Pendengaran (
Auscultation
)Jangan banyak membuang waktu untuk melakukan pemeriksaan secara rinci. Lakukan secara cepat tetapipastikan tidak ada yang terlewat. Pemeriksaan fisik memastikan bahwa tidak ada yang terlewat.Beberapa hal yang dapat dicari pada saat memeriksa korban :
P
erubahan bentuk - (
Deformities
) bandingkan sisi sakit dengan yang sehat
L
uka Terbuka- (
Open Ijuries
) biasanya terlihat adanya darah
N
yeri- (
Tenderness
) daerah yang cedera lunak bila ditekan
B
engkak- (
Swelling
) daerah yang cedera mengalami pembengkakan
Beberapa tanda cedera mungkin dapat jelas terlihat, banyak yang tidak terlihat dan menyimpanserius cedera potensial.Dengarkan penderita. Dengan mendengarkan dapat menunjukkan kepedulian danmemungkinkan mendapat informasi.Pemeriksaan fisik
(
Head to Toe
)Amati dan raba (menggunakan kedua tangan dan dengan tekanan), bandingkan (simetry), cium bauyang tidak biasa dan dengarkan (suara napas atau derit anggota tubuh), dalam urutan berikut:1.
Kepala

Kulit Kepala dan Tengkorak

Telinga dan Hidung

Pupil Mata

Mulut2.
Leher
3.
Dada

Periksa perubahan bentuk, luka terbuka, atau perubahan kekerasan

Rasakan perubahan bentuk tulang rusuk sampai ke tulang belakang

Lakukan perabaan pada tulang4.
Abdomen

Periksa rigiditas (kekerasan)

Periksa potensial luka dan infeksi

Mungkin terjadi cedera tidak terlihat, lakukan perabaan

Periksa adanya pembengkakan5.
Punggung

Periksa perubahan bentuk pada tulang rusuk

Periksa perubahan bentuk sepanjang tulang belakang6.
Pelvis
7.
Alat gerak atas
8.
Alat gerak bawah

MATERI DASAR PMR WIRA
1.
Frekuensi nadi
, termasuk kualitas denyutnya, kuat atau lemah, teratur atau tidak
2.
Frekuensi napas
, juga apakah proses bernapas terjadi secara mudah, atau ada usaha bernapas,adakah tanda-tanda sesak napas.
3.
Tekanan darah
, tidak dilakukan pemeriksaan oleh KSR dasar
4.
Suhu
, diperiksa suhu relatif pada dahi penderita. Periksa juga kondisi kulit: kering, berkeringat,kemerahan, perubahan warna dan lainnya.
Denyut Nadi Normal :
Bayi : 120 - 150 x/menitAnak : 80 - 150 x/menitDewasa: 60 - 90 x/menit
Frekuensi Pernapasan Normal:
Bayi : 25 - 50 x/ menitAnak : 15 - 30 x/ menitDewasa : 12 - 20 x/ menit
Riwayat Penderita
Selain melakukan pemeriksaan, jika memungkinkan dilakukan wawancara untuk mendapatkan datatambahan. Wawancara sangat penting jika menemukan korban dengan penyakit.Mengingat wawancara yang dilakukan dapat berkembang sangat luas, untuk membantu digunakanakronim :
KOMPAKK
=
K
eluhan Utama (gejala dan tanda)sesuatu yang sangat dikeluhkan penderita
O
=
O
bat-obatan yang diminum.Pengobatan yang sedang dijalani penderita atau obat yang baru saja diminum atau obat yangseharusnya diminum namun ternyata belum diminum.
M
=
M
akanan/minuman terakhir Peristiwa ini mungkin menjadi dasar terjadinya kehilangan respon pada penderita. Selain itu data ini jugapenting untuk diketahui bila ternyata penderita harus menjalani pembedahan kemudian di rumah sakit.
P = P
enyakit yang dideritaRiwayat penyakit yang diderita atau pernah diderita yang mungkin berhubungan dengan keadaan yangdialami penderita pada saat ini, misalnya keluhan sesak napas dengan riwayat gangguan jantung 3tahun yang lalu.
A = A
lergi yang dialami.Perlu dicari apakah penyebab kelainan pada pasien ini mungkin merupakan suatu bentuk alergi,biasanya penderita atau keluarganya sudah mengetahuinya
K = K
ejadian.Kejadian yang dialami korban, sebelum kecelakaan atau sebelum timbulnya gejala dan tanda penyakityang diderita saat ini.
Wawancara ini dapat dilakukan sambil memeriksa korban, tidak perlu menunggu sampaipemeriksaan selesai dilakukan.Pemeriksaan Berkelanjutan
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan tindakan, selanjutnya lakukan pemeriksaan berkala, sesuaidengan berat ringannya kasus yang kita hadapi.Pada kasus yang dianggap berat, pemeriksaan berkala dilakukan setiap 5 menit, sedangkan pada kasusyang ringan dapat dilakukan setiap 15 menit sekali.Beberapa hal yang dapat dilakukan pada pemeriksaan berkala adalah :1.Keadaan respon2.Nilai kembali jalan napas dan perbaiki bila perlu3.Nilai kembali pernapasan, frekuensi dan kualitasnya4.Periksa kembali nadi penderita dan bila perlu lakukan secara rinci bila waktu memang tersedia.5.Nilai kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban dan kondisinya Periksa kembali dari ujung kepalasampai ujung kaki, mungkin ada bagian yang terlewat atau membutuhkan pemeriksaan yang lebihteliti.6.Periksa kembali secara seksama mungkin ada bagian yang belum diperiksa atau sengaja dilewatikarena melakukan pemeriksaan terarah.7.Nilai kembali penatalaksanaan penderita, apakah sudah baik atau masih perlu ada tindakan lainnya.Periksa kembali semua pembalutan, pembidaian apakah masih cukup kuat, apakah perdarahansudah dapat di atasi, ada bagian yang belum terawat.8.Pertahankan komunikasi dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman
Pelaporan dan Serah terimaBiasakanlah untuk membuat laporan secara tertulis. Laporan ini berguna sebagai catatan anda, PMIdan bukti medis.
Hal-hal yang sebaiknya dilaporkan adalah :

MATERI DASAR PMR WIRA

Umur dan jenis kelamin penderita

Keluhan Utama

Tingkat respon

Keadaan jalan napas

Pernapasan

Sirkulasi

Pemeriksaan Fisik yang penting

KOMPAK yang penting

Penatalaksanaan

Perkembangan lainnya yang dianggap pentingBila ada formulirnya sertakan form laporan ini kepada petugas yang mengambil alih korban dari tangananda.Serah terima dapat dilakukan di lokasi, yaitu saat tim bantuan datang ke tempat anda, atau anda yangmendatangi fasilitas kesehatan.

BHDSistem pernapasan dan sirkulasi
a.
Sistem pernapasan, fungsi
:

Mengambil oksigen

Mengeluarkan CO2

Menghangatkan dan melembabkan udara ( hidung )
Susunan saluran napas
:i.Mulut/hidungii.Faringiii.Laringsiv.Trakeav.Bronkusvi.Bronkiolusvii.Alveolus (tempat pertukaran O2 dan CO2 di paru-paru).
b.
Sistem sirkulasi, fungsi
:

Alat angkut : O2, CO2, zat nutrisi, zat sampah.

Pertahanan tubuh terhadap penyakit dan racun

Mengedarkan panas ke seluruh tubuh

Membantu membekukan darah bila terjadi luka
Sistem sirkulasi, terdiri dari
:i.Jantungii.Pembuluh darah ( arteri, vena, kapiler )iii.Darah dan komponennya ( sel darah merah, sel darah putih, keping darah, plasma )iv.Saluran limfe
Pengertian mati klinis dan mati biologisMati klinis
:Tidak ditemukan adanya pernapasan dan denyut nadi, bersifat reversibel, penderita punya kesempatanwaktu 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak.
Mati biologis
:Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung, dimulai dengan kematian sel otak, bersifatirreversibel. ( kecuali berada di suhu yang ekstrim dingin, pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama 1 jam/ lebih dan berhasil ).
Tanda-tanda pasti mati :
a.Lebam mayatb.Kaku mayatc.Pembusukand.Tanda lainnya : cedera mematikan.
4 komponen rantai survival
Kecepatan dalam permintaan bantuanResusitasi jantung paru ( RJP )DefibrilasiPertolongan hidup lanjut
3 komponen Bantuan Hidup Dasar
a.
A
(Airway Control) : penguasan jalan napas
b.
B
(Breathing Support) : bantuan pernapasan
c.
C
(Circulatory Suport) : bantuan sirkulasi (pijatan jantung luar) dan menghentikanperdarahan besar.
macam penyebab utama sumbatan jalan napas

Lidah ( pada orang dewasa yang tidak ada respon )

Benda asing ( pada bayi dan anak kecil )
2 macam cara membuka jalan napas

Teknik angkat dagu-tekan dahi (bila tidak ada trauma kepala,leher, tulang belakang).

Perasat pendorongan rahang bawah (jaw thrust maneuver)
Cara memeriksa napas
Dengan cara LDR ( lihat, dengar, rasakan ) selama 3-5 detik.
2 teknik untuk membersihkan jalan napas

Menempatkan posisi pemulihan

Sapuan jari
Mengenali sumbatan jalan napas

Sumbatan parsial : penderita berupaya untuk bernapas, mungkin

MATERI DASAR PMR WIRA

Umur dan jenis kelamin penderita

Keluhan Utama

Tingkat respon

Keadaan jalan napas

Pernapasan

Sirkulasi

Pemeriksaan Fisik yang penting

KOMPAK yang penting

Penatalaksanaan

Perkembangan lainnya yang dianggap pentingBila ada formulirnya sertakan form laporan ini kepada petugas yang mengambil alih korban dari tangananda.Serah terima dapat dilakukan di lokasi, yaitu saat tim bantuan datang ke tempat anda, atau anda yangmendatangi fasilitas kesehatan.

BHDSistem pernapasan dan sirkulasi
a.
Sistem pernapasan, fungsi
:

Mengambil oksigen

Mengeluarkan CO2

Menghangatkan dan melembabkan udara ( hidung )
Susunan saluran napas
:i.Mulut/hidungii.Faringiii.Laringsiv.Trakeav.Bronkusvi.Bronkiolusvii.Alveolus (tempat pertukaran O2 dan CO2 di paru-paru).
b.
Sistem sirkulasi, fungsi
:

Alat angkut : O2, CO2, zat nutrisi, zat sampah.

Pertahanan tubuh terhadap penyakit dan racun

Mengedarkan panas ke seluruh tubuh

Membantu membekukan darah bila terjadi luka
Sistem sirkulasi, terdiri dari
:i.Jantungii.Pembuluh darah ( arteri, vena, kapiler )iii.Darah dan komponennya ( sel darah merah, sel darah putih, keping darah, plasma )iv.Saluran limfe
Pengertian mati klinis dan mati biologisMati klinis
:Tidak ditemukan adanya pernapasan dan denyut nadi, bersifat reversibel, penderita punya kesempatanwaktu 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak.
Mati biologis
:Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung, dimulai dengan kematian sel otak, bersifatirreversibel. ( kecuali berada di suhu yang ekstrim dingin, pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama 1 jam/ lebih dan berhasil ).
Tanda-tanda pasti mati :
a.Lebam mayatb.Kaku mayatc.Pembusukand.Tanda lainnya : cedera mematikan.
4 komponen rantai survival
Kecepatan dalam permintaan bantuanResusitasi jantung paru ( RJP )DefibrilasiPertolongan hidup lanjut
3 komponen Bantuan Hidup Dasar
a.
A
(Airway Control) : penguasan jalan napas
b.
B
(Breathing Support) : bantuan pernapasan
c.
C
(Circulatory Suport) : bantuan sirkulasi (pijatan jantung luar) dan menghentikanperdarahan besar.
PMI CABANG KOTA BLITAR
Hal 27 dari 80 Halaman


MATERI DASAR PMR WIRA
2 macam penyebab utama sumbatan jalan napas

Lidah ( pada orang dewasa yang tidak ada respon )

Benda asing ( pada bayi dan anak kecil )
2 macam cara membuka jalan napas

Teknik angkat dagu-tekan dahi (bila tidak ada trauma kepala,leher, tulang belakang).

Perasat pendorongan rahang bawah (jaw thrust maneuver)
Cara memeriksa napas
Dengan cara LDR ( lihat, dengar, rasakan ) selama 3-5 detik.
2 teknik untuk membersihkan jalan napas

Menempatkan posisi pemulihan

Sapuan jari
Mengenali sumbatan jalan napas

Sumbatan parsial : penderita berupaya untuk bernapas, mungkin disertai bunyi napastambahan seperti mengirik, mengorok, kumur, dll.

Sumbatan total : penderita sulit bernapas dan akhirnya akan kehilangan kesadaran
Cara mengatasi sumbatan jalan napas pada berbagai penderita
Sumbatan jalan napas total dapat diatasi dengan Perasat Heimlich (Heimlich Manuveur), yaitu :

Hentakan perut : letak kompresi pada pertengahan antara pertemuan iga k

Dilihat : 1 User
Komentar : belum ada komentar