Proses Pembentukan Perilaku Menyimpang - Ajat Sudrajat
Perilaku menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Dalam pelajaran terdahulu, nilai dan norma adalah suatu pedoman untuk mengatur perilaku manusia. Dalam internalisasi nilai dan norma ini, terjadi proses sosialisasi dalam diri seseorang. Ada seseorang yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dan ada pula yang tidak dapat melakukan proses sosialisasi dengan baik. Dengan demikian, pembentukan perilaku menyimpang merupakan suatu proses yang dapat dipandang dari berbagai sudut sebagai berikut.

a. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Sosiologi
Kehidupan bersama dalam suatu kelompok masyarakat melahirkan kebudayaan yang berisi tujuan-tujuan bersama dan cara-cara yang diperkenankan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Sebagai akibat dari proses sosialisasi, individu-individu belajar mengenali tujuan-tujuan kebudayaannya. Selain itu, mereka juga mempelajari cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan yang selaras dengan kebudayaannya. Jika kesempatan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut tidak terdapat, setiap individu mencari cara lain yang kadang-kadang menimbulkan penyim pangan. Apalagi jika tiap individu diberi kesempatan untuk memilih cara-caranya sendiri, kemungkinan perilaku menyimpang yang terjadi akan semakin besar. Sebab perilaku menyimpang dalam sosiologi dapat dilihat dari hal-hal berikut.

Perilaku Menyimpang Karena Sosialisasi.
Teori ini didasarkan pada pandangan bahwa dalam kehidupan masyarakat ada norma inti dan nilai-nilai tertentu yang disepakati oleh seluruh anggotanya. Teori ini menekankan bahwa perilaku sosial, baik yang bersifat menyimpang maupun tidak, dikendalikan oleh norma-norma dan nilai-nilai yang dihayatinya. Perilaku menyimpang disebabkan oleh adanya gangguan pada proses penghayatan dan pengamalan nilai-nilai tersebut dalam perilaku seseorang. Seseorang biasanya menghayati nilai-nilai dan norma-norma dari beberapa orang yang cocok dengan dirinya saja. Akibatnya, jika ia banyak menghayati nilai-nilai atau norma yang tidak berlaku secara umum, ia cenderung berperilaku menyimpang. Terlebih jika sebagian besar teman-teman di sekelilingnya adalah orang yang memiliki perilaku menyimpang, kecenderungan besar orang itu akan menyimpang pula. Perilaku seseorang akan menyimpang jika kadar penyimpangannya lebih besar daripada kadar perilakunya yang wajar atau bersifat umum dan diterima masyarakat. Contohnya, jika seorang siswa bergaul dengan orang-orang yang berperilaku menyimpang seperti pecandu narkoba, lambat laun ia akan mempelajari nilai-nilai dan norma itu, kemudian diserap dan dihayati dalam kepribadiannya yang akan berakhir dengan melakukan perbuatan tersebut.

Perilaku Menyimpang Karena Anomi (Anomie)
Menurut Durkheim (1897), anomi adalah suatu situasi tanpa norma dan tanpa arah sehingga tidak tercipta keselarasan antara kenyataan yang diharapkan dan kenyataan sosial yang ada. Teori ini menyatakan bahwa penyimpangan terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat sejumlah kebudayaan khusus (etnik, agama, kebangsaan, kedaerahan, dan kelas sosial) yang dapat mengurangi kemungkinan timbulnya kesepakatan nilai (value consensus). Dengan kata lain, anomi menggambarkan sebuah masyarakat yang memiliki banyak norma dan nilai, tetapi antara norma dan nilai yang satu dan yang lainnya bertentangan. Akibatnya, timbul keadaan tidak adanya seperangkat nilai atau norma yang dapat dipatuhi secara konsisten dan diterima secara luas. Masyarakat seperti itu tidak mempunyai pegangan yang mantap sebagai pedoman nilai dan menentukan arah perilaku masyarakat yang teratur.
Robert K. Merton menganggap anomi disebabkan adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan. Perilaku menyimpang akan meluas jika banyak orang yang semula menempuh cara-cara pencapaian tujuan dengan wajar kemudian beralih pada cara-cara yang menyimpang. Teori ini sangat cocok untuk menganalisis banyaknya perilaku menyimpang, seperti KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang sudah dinyatakan menjadi budaya di Indonesia. Untuk hal itu, terdapat lima cara pencapaian tujuan mulai cara yang wajar sampai menyimpang, yaitu sebagai berikut.
  1. Konformitas, yaitu sikap menerima suatu tujuan budaya yang konvensional dengan cara yang selama ini biasa dilakukan (tradisional).
  2. Inovasi, yaitu sikap seseorang untuk menerima secara kritis caracara pencapaian tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya sambil menempuh cara baru yang belum biasa dilakukan. Dalam inovasi upaya pencapaian tujuan tidak dilakukan dengan cara yang konvensional dan dilarang. Contohnya, seorang guru mengajar dengan cara yang membuat kelas ribut. Meskipun tadinya dianggap mengganggu, cara itu berhasil meningkatkan semangat siswa belajar.
  3. Ritualisme, yaitu sikap seseorang yang masih menjalankan caracara konvensional, namun melupakan tujuan sebenarnya dari suatu kebudayaan tersebut. Cara-cara kebiasaan tetap dilakukan, tetapi fungsi dan maknanya sudah hilang dan orang yang melakukannya sekadar memenuhi kewajiban. Contohnya, banyak siswa yang tertib mengikuti upacara bendera hanya sekadar untuk ikut peraturan sekolah dan bukan untuk semangat nasionalisme.
  4. Pengasingan, yaitu sikap seseorang menolak, baik tujuantujuan maupun cara-cara mencapai tujuan, yang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat ataupun lingkungan sosialnya. Contohnya, seorang karyawan mengundurkan diri dari perusahaan karena konflik kepentingan pribadi dan kepen tingan perusahaan.
  5. Pemberontakan, yaitu sikap seseorang menolak sarana dan tujuan-tujuan yang disahkan oleh budaya masyarakatnya dan menggantinya dengan cara baru. Contohnya, kaum revolusioner yang memperjuangkan suatu ideologi dengan gigih melalui perlawanan bersenjata.
Klik banner untuk berkunjung

Perilaku Menyimpang Karena Hubungan Diferensiasi
Penyimpangan terjadi karena harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana caranya menjadi seorang yang menyimpang. Proses belajar ini terjadi akibat interaksi sosial antara seseorang dan orang lain. Derajat interaksi bergantung pada frekuensi, prioritas, dan intensitasnya. Semakin tinggi derajat keempat faktor ini, akan semakin tinggi pula kemungkinan bagi mereka untuk menerapkan tingkah laku yang sama-sama dianggap menyimpang. Contohnya, seseorang yang ingin berprofesi sebagai perampok karena terdesak kebutuhan hidup dan ingin cepat kaya dengan cara yang singkat dan tidak wajar, kemudian ia berusaha mempelajari cara-cara merampok dari teman-temannya yang lebih dahulu menjadi perampok. Setelah mengetahui cara-caranya, ia akan menjadi perampok mengikuti teman-temannya.

Perilaku Menyimpang Karena Pemberian Julukan (Labelling)
Perilaku menyimpang lahir karena adanya cap, julukan, atau sebutan atas suatu perbuatan yang disebut menyimpang. Dengan memberikan julukan pada suatu perilaku sebagai perilaku menyimpang, berarti kita menciptakan serangkaian perilaku yang cenderung mendorong orang untuk melakukan penyimpangan. Jadi, jika kita memberi cap terhadap seseorang sebagai orang yang menyimpang, julukan tersebut akan mendorong orang tersebut berperilaku menyimpang.
Teori ini menggambarkan bagaimana suatu perilaku menyimpang seringkali menimbulkan serangkaian peristiwa yang justru mempertegas dan meningkatkan tindakan penyimpangan. Pada kenyataannya dalam keadaan tertentu pemberian julukan mendorong timbulnya penyimpangan berikutnya. Dalam keadaan tertentu lainnya, pemberian julukan akan mendorong kembalinya orang yang menyimpang ke perilaku yang normal. Contohnya, seorang siswa yang tertangkap basah menyontek ketika ujian, kemudian semua siswa di kelas itu memberi julukan pada dirinya “si tukang nyontek”, padahal ia baru sekali melakukan perbuatan itu. Oleh karena sudah diberi julukan demikian, siswa tersebut akan mempunyai kecenderungan melakukan perilaku itu terusmenerus karena sebagian besar siswa sudah berpandangan negatif terhadap dirinya.

b. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Biologi
Sebagian besar ilmuwan abad ke-19 berpandangan bahwa kebanyakan perilaku menyimpang disebabkan oleh faktor-faktor biologis, seperti tipe sel-sel tubuh. Salah satunya adalah pandangan dari seorang ahli bernama Caesare Lombroso. Ia berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi yang panjang, adanya kelainan pada mata yang khas, jari-jari kaki dan tangan relatif besar, serta susunan gigi yang tidak normal. Adanya pandangan dari sudut biologi ini telah menimbulkan keraguan dari para ahli ilmu sosial. Meskipun ditunjang oleh berbagai bukti empiris, para kritikus menemukan sejumlah kesalahan metode penelitian sehingga menimbulkan keraguan terhadap kebenaran teori tersebut. Para ilmuwan lainnya menganggap faktor biologis sebagai faktor yang secara relatif tidak penting pengaruhnya terhadap penyimpangan perilaku.

c. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Psikologi
Teori ini berpandangan bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku menyimpang karena perilaku menyimpang seringkali dianggap sebagai suatu gejala penyakit mental. Namun, teori psikologis tidak dapat memberikan banyak bantuan untuk menjelaskan penyebab perilaku menyimpang. Ilmuwan yang terkenal di bidang ini ialah Sigmund Freud. Dia membagi diri manusia menjadi tiga bagian penting sebagai berikut.
1) Id, bagian diri yang bersifat tidak sadar, naluriah dan impulsif (mudah terpengaruh oleh gerak hati).
2) Ego, bagian diri yang bersifat sadar dan rasional (penjaga pintu kepribadian).
3) Superego, bagian diri yang telah menyerap nilai-nilai kultural dan berfungsi sebagai suara hati.
Menurut Freud, perilaku menyimpang terjadi apabila id yang berlebihan (tidak terkontrol) muncul bersamaan dengan superego yang tidak aktif, sementara dalam waktu yang sama ego yang seharusnya dominan, tidak berhasil memberikan perimbangan.
Klik banner untuk berkunjung
d. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Kriminologi
Dalam hal ini perilaku menyimpang dapat dilihat dari Teori Konflik dan Teori Pengendalian. Dalam teori ini terdapat dua macam konflik, yaitu sebagai berikut.
  1. Konflik budaya terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat sejumlah kebudayaan khusus yang masing-masing cenderung tertutup sehingga mengurangi kemungkinan timbulnya kesepakatan nilai. Setiap kelompok menjadikan norma budayanya sebagai peraturan resmi. Akibatnya, orang yang menganut budaya berbeda dianggap sebagai penyimpang. Berbagai norma yang saling bertentangan yang bersumber dari kebudayaan khusus yang berbeda itu akan menciptakan kondisi anomi. Pada masyarakat seperti ini, kelas rendah harus bertentangan (berkonflik) dengan kelas menengah hanya karena mereka dipaksa meninggalkan kebudayaan yang telah mereka anut sebelumnya.
  2. Konflik kelas sosial terjadi akibat suatu kelompok menciptakan peraturan sendiri untuk melindungi kepentingannya. Pada kondisi ini terjadi eksploitasi kelas atas terhadap kelas bawah. Mereka yang menentang hak-hak istimewa kelas atas dianggap mem punyai perilaku menyimpang sehingga dicap sebagai penjahat.
Dilihat dari teori pengendalian, kebanyakan orang menyesuai kan diri dengan nilai dominan karena adanya pengen dalian dari dalam ataupun dari luar. Pengendalian dari dalam berupa norma yang dihayati dan nilai yang dipelajari seseorang. Pengendalian dari luar berupaya imbalan sosial terhadap konformitas (tindakan mengikuti warna) dan sanksi hukuman terhadap tindakan penyimpangan. Dalam masyarakat konvensional, terdapat empat hal yang mengikat individu terhadap norma masya rakatnya, yaitu:
  1. kepercayaan, mengacu pada norma yang dihayati;
  2. ketanggapan, yakni sikap tanggap seseorang terhadap pendapat orang lain, berupa sejauh mana kepekaan seseorang terhadap kadar penerimaan orang konformis;
  3. keterikatan (komitmen), berhubungan dengan berapa banyak imbalan yang diterima seseorang atas perilakunya yang konformis;
  4. keterlibatan, mengacu pada kegiatan seseorang dalam berbagai lembaga masyarakat, seperti Majelis Ta’lim, sekolah, dan organisasi-organisasi setempat.
Semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang akan salah satu pengikat tersebut, semakin kecil pula kemungkinan baginya untuk melakukan penyimpangan.

Perilaku dan Subkebudayaan Menyimpang
Pergaulan yang dilakukan seseorang yang sedang tumbuh dewasa umumnya tidak lepas dari peniruan (imitasi) terhadap orang lain yang dijadikan idolanya. Akan tetapi, peniruan ini kadangkala bersifat negatif. Hal yang ditiru adalah budaya Barat, seperti dari Eropa atau Amerika yang dianggapnya mewakili dunia modern. Hal ini disebut westernisasi. Berperilaku seperti mereka akan merasa dirinya modern. Padahal tidak demikian karena yang ditiru mereka bukan ilmu pengetahuan atau keterampilan, melainkan pola, sikap, perilaku, kebiasaan dan lain-lain yang biasa dilihat dari televisi, film di bioskop atau gaya kelompok pemain musik yang menjadi panutannya. 
Westernisasi di dalamnya terdapat kata west yang berarti ‘barat’, bukan berarti mengambil kebudayaan dari Barat berupa ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa berperilaku seperti orang Barat, melainkan berperilaku dan bertindak seperti orang Barat yang dianggapnya modern dengan melupakan budaya sendiri. Westernisasi berarti peniruan seperti orang Barat, misalnya:

  1. meniru secara berlebihan gaya pakaian (mode) yang selalu mengalami perubahan dengan cepat;
  2. meniru gaya bicara dan adat sopan santun pergaulan Barat;
  3. sikap merendahkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan mencampur adukan istilah dan ungkapan orang Barat ke dalam bahasa Indonesia walaupun lawan yang diajak bicara tidak memahaminya. Begitu pula dalam menegur orang lain yang ditemuinya, seperti hallo, okey, Dad, atau bye;
  4. meniru pesta-pesta yang dilakukan orang Barat, seperti pesta ulang tahun, pesta malam tahun baru yang disertai dengan minum-minuman keras;
  5. tidak melewatkan pergi ke disko untuk setiap saat di malam minggu atau malam liburan;
  6. wanita yang bertemu teman dekat lelakinya yang telah lama tidak jumpa melakukan cium pipi kanan dan cium pipi kiri.
Usaha mengadopsi gaya hidup kebarat-baratan seperti itulah yang disebut westernisasi
Kategori : Sosiologi 10
Komentar : belum ada komentar