Menyambut Hari Kemerdekaan - Farid Fadlurrohman

Menyambut Hari Kemerdekaan

Menyambut Hari Kemerdekaan 

 Dibaca: 30.000    Komentar: 1000    1000

 
             

 

17 Agustus masih satu bulan kedepan. Masih satu bulan lagi, kita bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Dan persiapan apakah yang sudah kita lakukan untuk menyambutnya?? Apakah kita bersemangat, bersukacita menyambutnya??


Dulu ditahun 1990-an, di daerah asal saya, peringatan 17 Agustus-an selalu ramai dan meriah. Jauh hari sebelum tanggal 17 Agustus, sang saka merah putih telah berkibar dihalaman rumah masing-masing warga, paling tidak satu minggu sebelum tanggal 17 Agustus. Demi untuk menyambut hari kemerdekaan, warga bergotong royong, kerja bakti, bersama-sama, yang dilakukan dirumah masing-masing. Kegiatan disetiap rumah hampir sama, membuat pagar untuk halaman rumah, yang terbuat dari bambu, kemudian dicat berwarna putih, membuat patok-patok (terbuat dari bambu dengan panjang kurang lebih 50cm dan dicat hitam putih), biasanya patok bambu ini akan dipasang berjajar dibahu jalan desa didepan rumah masing-masing tentunya. Bagi yang punya tamanan dihalaman rumah, tanaman itu dipangkas, dan dirapikan, rumput-rumput liar dihalaman rumahpun, dibabat habis, hingga bersih. Dan yang terpenting adalah, mencari batang kayu yang kokoh, dan cocok untuk dijadikan tiang bendera. Hal yang selanjutnya dilakukan warga adalah, mengecat batang kayu yang akan dijadikan tiang bendera. Semua warga bersukacita menyambut hari kemerdekaan. Ini dilakukan, bukan karena ada lomba kebersihan antar desa, tapi kegiatan ini dilakukan dengan ketulusan hati setiap warga, demi perayaan hari kemerdekaan. Kegiatan gotong royong, kerja bakti itu, biasanya sudah mulai dilakukan ketika memasuki bulan agustus hingga menjelang hari H. Ini biasanya dilakukan oleh bapak-bapak, dirumahnya masing-masing. Dan tidak lupa juga, para bapak ini, kerja bakti, gotong royong membersihkan balai RT. Tidak hanya membersihkan, tapi juga menghiasnya serta mengecat ulang. Karena balai RT akan dijadikan tempat pusat acara 17 Agustus-an.


Bagaimana dengan anak-anak?? Anak-anakpun, mulai sibuk ketika memasuki bulan agustus. Disetiap hari minggu sebelum tanggal 17 agustus, ada perlombaan yang bisa diikuti. Perlombaan wajib biasanya balap kelereng, balap karung, tarik tambang. Kegiatan perlombaan untuk anak-anak ini, biasanya disesuaikan dengan jadwal sekolah anak-anak warga sekitar. Agar anak-anak bisa mengikuti perlombaan, tanpa harus bolos sekolah. Nah, nanti hadiah akan dibagikan dimalam 17 Agustus, yaitu acara puncak. Dan biasanya hadiahnya berupa buku tulis, dan pensil atau pena, serta penghapus. Antar juara satu, dua, tiga, hadiahnya sama, cuma jumlah buku tulisnya yang beda. Kalau juara satu, tiga buku tulis, juara dua, dua buku tulis, juara tiga, pastinya satu buku tulis.


Menjelang bulan agustus, atau ketika memasuki bulan agustus, hal yang paling sering dibicarakan anak-anak disana biasanya tentang karnaval yang diadakan oleh pemerintah desa. Pesertanya adalah sekolah-sekolah yang berada diwilayah desa tersebut, yaitu TK, SD, SMP. Untuk SMA tidak ada yang mengikuti karnaval, karena tidak ada sekolah SMA disana. Anak-anak sudah memperkirakan kapan karnaval, dan akan ikut memeriakkannya dengan menggunakan baju adat apa, atau berpakaian dengan beragam profesi, mulai dari petani, guru, tentara, olahragawan, dokter, perawat, dll. Ada juga anak-anak yang mulai berlatih drumband disekolahnya. Jangan dibayangkan drumband nya, drumband seperti di TV, kawan. Drumband disana dahulu itu menggunakan alat seadanya, memakai kaleng bekas yang dihias. Tapi tetap saja seru dan menarik ketika dibawa di karnaval.


Dari mana warga desa punya dana hingga bisa buat acara di balai RT dan mengadakan lomba serta memberi hadiah?? Dananya tentu saja dari iuran warga juga. Biasanya panitia 17 Agustus-an keliling dari rumah kerumah minta sumbangan untuk memperingati hari kemerdekaan. Meski ditahun itu warga masih hidup susah tapi mereka tetap antusias untuk berpartisipasi menyambut hari kemerdekaan bangsanya. Memang sumbangan tiap warga tidak banyak, mulai dari dua ribu rupiah, tiga ribu rupiah, lima ribu rupiah, saja, dan kalaupun tidak punya duit untuk menyumbangpun tidak mengapa, yang penting ikut berpatisipasi. Tidak banyak tapi cukup buat acara yang meriah. Karena, untuk urusan makanan snack diacara puncak, atau acara selamatan di tanggal 17 Agustus, biasanya setiap warga menyumbangkan makanan juga. Ya, semampunya warga bisa memberi sumbangan snack dalam bentuk apa, akan diterima panitia. Di tahun 1990-an itu, jenis snack yang diberikan warga berupa, nagasari (jenis makanan yang terbuat dari tepung terigu diisi irisan pisang dibungkus daun pisang), ada juga lemet (terbuat dari singkong yang rebus dihaluskan, kemudian diisi gula merah, dan dibungkus daun pisang), ada juga pisang rebus, singkong rebus. Ada lagi snack yang lebih berkelas kata orang-orang diwaktu itu, kacang atom dan roti-roti yang dibeli dipasar. Semua warga bersuka cita ikut berpartisipasi menyambut hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia.


Spirit nya luar biasa ditahun itu. Hari kemerdekaan selalu disambut dengan penuh sukacita. Bahkan sudah dipersiapkan sejak memasuki bulan agustus. Semua warga dengan sukarela mau berpartisipasi untuk memeriahkannya. Dan tanpa diminta oleh ketua RT pun, mereka sudah bergerak sendiri-sendiri.


Diacara puncak biasanya ada sambutan-sambutan dari RT, ketua panitia. Sambutannya sederhana, intinya jangan lupakan para pahlawan kita yang telah berjuang demi bangsa dan negara, demi kemerdekaan Indonesia. Acara ini biasanya malam hari tepat tanggal 17 Agustus. Sementara pagi hari hingga sore hari, warga desa dihibur dengan hiburan kuda lumping. Semua warga berduyun-duyun datang kebalai RT setempat, tua, muda, juga anak-anak. Para pedagangpun ikut berdesakan untuk menjajakan dagangannya demi memanfaatkan momen ini. Banyak penjual makanan dadakan diacara ini. Dan malam sebelumnya, tepatnya tanggal 16 Agustus, telah diadakan syukuran atau selamatan untuk hari kemerdekaan, serta berdoa untuk para pejuang bangsa yang gugur dimedan perang. Syukuran ini dilakukan dihalaman balai RT yang diikuti oleh bapak-bapak setempat.


Tapi itu semua dulu di tahun 1990-an, kawan. Memasuki tahun 2000-an spirit itu lama-lama menguap begitu saja. Sekarang, banyak warga yang tak peduli dengan hari kemerdekaan. Karnaval, ya…seadanya, tak semeriah dahulu. Persiapan warga menjelang 17 Agustus, biasa-biasa saja. Pasang bendera ya..hanya pasang begitu saja, tanpa menghias rumah dengan pagar bambu dan patok bambu. Balai RT nya saja sudah kusam dan tak pernah difungsikan lagi menjadi pusat acara perayaan kemerdekaan. Semua warga sibuk dan tenggelam dengan rutinitas masing-masing. Yang suka ngerumpi ya ngerumpi saja, yang giat kesawah keladang, ya sibuk dengan cangkulnya. Yang muda-muda, sibuk main motor kebut-kebutan dijalan, sibuk ber-hp ria.


Semuanya telah berubah. Semuanya telah berbeda. Beda dulu, beda sekarang. Tapi meski berbeda, jangan sampai melunturkan energi kebangsaan. Jangan sampai lupa dengan hari besar negara, hari kemerdekaan negara Republik Indonesia. Karena kemerdekaan itu tidak didapat dengan mudah, ataupun diberi dengan cuma-cuma. Demi kemerdekaan bangsa dan negara, para pahlawan kita telah mengorbankan segala yang mereka punya, harta benda serta nyawa. Maka dari itu, kawan, mari bersama membangun bangsa dan negara kita tercinta, Negara Republik Indonesia, dengan semangat persatuan, demi kemajuan bangsa.

Dilihat : 17 User
Komentar : 4 komentar
Tag Teman :